*==[[ Terimakasih Atas Kunjungannya ]]==*

1. Worldview
2. Ad-Dien
3. Wajah Barat
4. Tuhan Filsafat
5. Membangun Peradaban
6. Fe-Minus
7. Perkawinan dalam Perspektif Hukum Islam
8. Poligami and Married Siri
9. Berpolitiklah Secara Islami
10. Saat Nyawa di Tangan Manusia
11. Reasons and Prosedure Polygamy
12. Social Order Creating Fair in Islam
13. Islamic Law at Indonesian Waris
14. Pemimpin Yang Alim
15. Fakta Sejarah
16. Aslim Taslam
17. Pluralisme
18. Blasphemy
19. Ideology Pancasila
20. 5 Prinsip Menyikapi Faham Islam Liberal
21. Religius Humanis
22. Kesalahpahaman Makna Jihad
23. Madzhab Yang Beda
24. Islamisasi Ilmu
25. Liberalisme<< Batu Sandungan Pemikiran
26. Gender dalam Perspektif Islam
27. Konsep Pendidikan Islam Menurut Fazlur Rahman
28. Konstitusi Piagam Madinah
29. Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa
30. Uzlah Dalam Pandangan Dr. Wahbah Zuhaili
31. Yasinan dan Tahlilan
32. Seni Keindahan Visual Menurut Dr. Yusuf Qardhawi
33. Islam Phobia
34. Hukum Memperingati Isra Mi'raj
35. Pernikahan Beda Agama
36. Zakat Konsep Harta yang Bersih
37. Budaya Ilmu dan Peradaban Buku
38. Virginisty vs Prostitusy
39. Aqidah Islam: Asas Kemenangan
40. Sepak Terjang Sekularisme
41. Hermeneutika Sebagai Produk Pandangan Hidup
42. Urgensi Pemberdayaan Umat Lewat Mesjid
43. Fatwa MUI Tentang Hak Cipta
44. Pendidikan Islam vs Pendidikan Barat
45. Film "?" Apa maunya ?
46. Menjaga Pemikiran di Bulan Ramadhan
47. Sunni-Syiah dalam Nauangan Khilafah
48. Mitos Tentang Perayaan Natal Bersama
49. Interfaith Dialogue dan Relativisme Beragama
1. Arti Cinta Dalam Kehidupan
2. Looser or Winner
3. What Is Love
4. Aku Ingin Menjadi Detik
5. Bila Hati Berbalut Cemas
6. Berwudhu dan Memandang dengan Syahwat
7. Bersikap
8. Aku tak Pantas Berharap Surga
9. Istighfar dan Taubat adalah Kunci Rizki
10. Indahnya Istiqomah
11. Hanya Allah Temapt Bergantung
12. Untukmu Ibu
13. Istimewanya Seorang Wanita Muslimah
14. Tanamkan Akidah Sejak Usia Dini
15. What is Love..??
16. Definition of Love
17. Taukah Anda Hai Wanita..?
18. Sifat Alam Tersirat dalam Al-Qur’an
19. Perluasan Alam Semesta di Al Qur’an
20. Pengetahuan Sidik Jari di Al Qur’an
21. Masalah Genetka di Al Qur’an
22. Mahluk-Mahluk Bercahaya
23. Lauh Mahfuzh Kitab Terpelihara
24. Langit yang mengembalikan
25. Kematian Sejati
26. Kebesaran Allah pada Planet Bumi
27. Keajaiban Tumbuhan
28. Islam Menyelesaikan Permasalahan
29. Fisika Kimia Kenyataan Ghaib
30. Dimensi Lain dalam Materi
31. Berita Masa Depan
32. Bagian I Sejarah Berdarah Komunisme
33. Bagian II Manusia Bukan Hewan
34. Sang Legenda Buya Hamka
35. Homeschooling,Alternatif Pendidikan
36. Qiyas
37. Maslahat Mursalah
38. Saddudz Dzariah
39. 'Urf
40. Singa Padang Pasir Khalid bin Walid
41. Siapa sebenarnya ahli sunnah waljama'ah..??
42. Biografi Sang Proklamator
43. Biografi Wahbah Zuhaili
44. Hikmah Diharamkannya Menikahi Saudara Perempuan
45. Mari Menangis
46. Wudhu Sarana Refleksi
47. Fatwa_Fatwa Nikah
48. Hakekat Memakai Jilbab
49. Ibn Khaldun-Bapa Sejarah Kebudayaan
50. Al-Faraby: Ahli SEjarah Sekaligus Ilmuwan
51. Ibn Battuta-Sang Pengembara
52. Ibn Rusyd- Ahli Falsafah, Kedokteran & Ilmu Fiqh
53. Ibn Sina-Bapa Perobatan Modern
54. Hikmah DI Haramkannya Babi
55. Ar Razy, Bapak Pakar Sains
56. Ibnu Taimiyah
57. Al-Haitam- Bapak Optik Modern
58. Potret Imam Syafii:Sang Mujaddid
59. Manusia VS Mayat
60. Ilmu Laduni
61. 4 Tanda Sholat Diterima
62. Mengingat Kematian
63. Ayah !!Ayo kita Sholat...
64. Hormati Ibumu
65. Ya Allah..!!
66. Pikirkan dan Syukurilah..!!
67. Kelola Hati Nuranimu Hingga Memancarkan Hikmah
68. Orang-orang yang dido'akan Malaikat
69. Yang Lalu Biarlah Berlalu
70. 1001 Hikamh Shalat Subuh
71. 10 Sandaran Meneguhkan Iman
72. Memanfaatkan Waktu Pada Bulan Ramadhan
73. Hari Ini Adalah Milik Anda
74. Ingatkan Aku
75. Kata Non Muslim Tentang Muhammad
76. Tak Sesulit Yang Kita Bayangkan
77. Pahala Dua Kali Lipat
78. Mengenal Surat Al-Fatihah
79. Maraknya Bencana: Adzab apa Ujian ?
80. Bertambahnya Ni'mat
81. Kiat-kiat Rasulullah SAW
82. Miftahul Jannah (Kunci Surga)
83. Yang Paling dari Imam Al-Ghozali
84. Kumpulan Kata Motivasi Sang Khalifah
85. Surat Dari GAZA
86. Allah Lebih Dekat Dari Urat Nadi Manusia
87. Terapi Air Putih
88. Air Kehidupan
89. Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal
90. Mutiara dari "Sepatu Dahlan"
Showing posts with label WACANA KEISLAMAN. Show all posts
Showing posts with label WACANA KEISLAMAN. Show all posts

Keluarga: Membangun Generasi Muttaqin

       Do’a menunjukkan orientasi hidup dan cita-cita seseorang, siapa yang perhatiannya hanya urusan duniawi, do’anya terbatas pada masalah-masalah duniawi, dan siapa yang mengharapkan akhirat do’anya akan mengarah kesana.
     Bahkan ketika hajji, banyak orang yang hanya menghususkan do’anya untuk urusan-urusan duniawi ( jodoh, pekerjaan, pangkat, karir dll ) sehingga dia tidak mempunyai lagi bagian di akhirat. Sementara itu sebagian lainnya memohon kebaikan dunia dan akhirat serta terbebas dari api neraka, mereka inilah yang terpuji dan akan mendapatkan apa-apa sesuai dengan usahanya. ( al-Baqoroh : 200).
      Apa yang semestinya menjadi cita-cita dan do’a orang-orang beriman ?. Untuk hal ini kita bisa belajar dari al-Qur’an yang telah memberikan tuntunan gamblang :
a. Doanya orang-orang yang mendalam ilmunya ( arrasikhun ) adalah memohon agar diteguhkan hatinya, serta mendapat limpahan rahmah ( Ali Imron : 8 ).
b. Ulul albab memohon ampunan setelah memenui panggilan iman, juga memohon dihapusnya kesalahan dan husnul khotimah ( Ali Imron : 193 – 194)
c. Ashabul kahfi memohon limpahan rahmah, serta bimbingan dalam segala urusan mereka ( al-Kahfi : 10 )
d. Nabi Ibrohim memohon kebaikan generasi yang menjadi penegak sholat (brohim : 40 - 41 )
e. Do’a-do’a nabi Muhammad SAW kalau kita teliti untuk memhami apa yang menjadi cita-cita beliau, kita akan temukan do’a-do’a yang sangat istimewa.
      Pada kesempatan ini kita mencoba untuk menelaah apa yang menjadi cita-cita dan do’a para ibadurrahman, seperti yang diabadikan Allah dalam al-Furqon : 74. Yakni memohon kebaikan generasi penerus, agar menjadi qurratu ‘ain, sholihin, taat kepada Allah jauh dari ma’shiat.
       Pandangan mata dan hati kita akan sejuk manakala kita mempnyai istri yang sholehah (menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh, menjaga amanah saat kita pergi, membantu kita dalam ketaatn dan urusan akhirat, menggeraqkkan keimanan kita, mwncegah kita dari ma’shiat dst. Bukan justru yang membuat kita celaka dengan mengolok-ngolok kefakiran kita, membanding-bandingkan kita dengan tetangga dalam urusan dunia sehingga mendorong kita untuk mengambil jalan pintas dalam mencari rizqi.
      Wanita salaf bila mengantar suaminya untuk bekerja berpesan “ Jangan sampai anda mencari rizki yang haram, karena kami lebih tahan menderita lapar daripada menahan siksa neraka “. Ucapan ini akan sangat membantu suami, menjadi rem agar tidak memakan harta haram, menerima suap, pungli, korupsi dll. “Berhentilah pada batasan Allah, cariyang halal, jauhi yang haram bahkan hindarilah yang subhat, karena barangsiap ayang menjauhi subhat sungguh telah menyelamatkan agamanya, dan yang meremahkan syubhat dan terperosok ke dalamnya, sama saja dengan terperosok dalam haram. ( H.R. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah ) Tinggalkan yang engkau ragukanmenuju yang tidak meragukan.
      Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang sholehah (H.R. Muslim, Nasai dan Ibnu Majah ) Wanita yang menjadi perhiasan, bukan sekedar yang cantik, yang kaya, tetapi yang mempunyai mentalitas dan akhlaq agama ( dzatuddin ). Wanita yang demikian yang akan menadji lahan subur untuk menyemai generasi sholihin, karena ia akan menjadi pendidik utama bagi keluarganya.
Diterangkan dalam hadist bahwa setelah taqwa kepada Allah, hal terbesar yang bisa dimanfaatkan oleh seorang lelaki adalah : istri yang sholehah, kalau disuruh taat, kalau dilihat menyenangkan, kalau diberi nafaqoh diterima dengan baik, ( disyukuri ) dan bila ditinggal pergi dia bisa menjadi penasehat bagi dirinya dan harta benda suaminya (H.R. Ibnu Majah )
       Dalam al-Qur’an Allah menjelaskan diantara ciri wanita sholehah adalah yang taat kepada Allah, serta menjaga yang ghoib, apa-apa yang dijaga oleh Allah ( An-nisa’ : 34 ). Ia menjaga dirinya, suaminya, kehormatannya, anak-anaknya, harta benda, rahasia dll.
       Itulah tadi ciri-ciri wanita sholehah yang menjadi dasar kebahagiaan rumah tangga : Diantara kebahagiaan bani adam adalah : wanita sholehah, tempat tinggal yang baik dan kendaraan yang baik ( H.R. Ahmad ) . Empat hal yang apa bila diberikan kepada seseorang sungguh telah diberikan kepadanya kebaikan dunia dan akirat : hati yang bersyukur, lidah yang berdzikir, badan shabar atas cobaan dan istri yang tidak mencari-cari kekurangan dalam dirinya dan harta bendanya “ ( H.R. Thabrani ).
     Wanita generasi salaf justru sering mendorong suaminya untuk berjihad, berinfaq, menegakkan Negara Islam, membangun peradaban, meninggikan kalimah Allah dimuka bumi, menentang para thaghut yang memerangi umat Islam.
       Jangan sampai istri-istri kita menjadi bagian dari 3 hal yang membuat kebangkrutan dunia kahirat ( fawaqir ) , yaitu : Imam yang kalau kita berbuat baik kepadanya tidak pernah berterima kasih, tetapi kalau kita salah tidak mau memaafkan, tetangga yang selalu menyembunyikan kebaikan kita dan menyebarluaskan kejelekan kita, serta istri yang selalu menyakiti kita bila kita ada dan khianat bila kita pergi ( H.R. Thabroni ). Sebagaimana disebut dalam hadist lain,bahwa kesengsaraan seseorang diantaranya disebabkan oleh istri yang jahat, rumah yang jelek dan kendaraan yang jelek.
       Demikian pula hendaknya para istri berdo’a memohon kepada Allah agr dikaruniai suami yang sholeh, yang menyuruh untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, seperti yang dilakukan oleh nabi Isma’il “ Ada pun Ismail, maka ia menyuruh ahlinya untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat dan dia disisi Allah diridhoi “ (Maryam : 55 ). Menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran, membantu dalam ketaatn kepada Allah, memimpin keluarganya, menjaga mereka dari siksa api neeraka. Karena diantar sebab kesengsaraan seorang wanita adalah manakala mempunyai suami yang tidak kenal Allah, tidak sholat, berakhlak tercela, melanggal batasan-batasan Allah.
     Selanjutnya memohon agar dikaruniai keturunan yang sholihin ( menjadi permata hati), nak menjadi permata hati bukan sekedar tumbuuh besar, sehat, cakep, sukses belajarnya, dapat pekerjaannya ( mentas ). Tetapi yang bisa terjaga dari api neraka, lurus aqidahnya, rajin ibadahnya, luhur akhlaqnya, berbakti kepada Allah, kepda orang tua, bisa menjalankan fungsinya dalam memakmurkan bumi, berpengetahuan luas dsb.
     Apa artinya punya anak sukses dalam urusan duniawi, tetapi tidak beribadah kepda Allah, durhaka kepada orang tua, lebih setia kepada teman dan istrinya dan orang tua diterlantarkannya.
       Dan permohonan berikutnya yang menjadi kunci agar bisa mempunyai keluarga yang menjadi permata hati adalah manakal kita sebagai kepala rumah tangga bisa menjadi imam bagi orang-orang yang bertaqwa, artinya menjadi teladan dalam ketaqwaan kepada Allah. Imam ada dua macam ada yang menyeru kepada surga (menyuruh sholat, zakat dan kebaikan ) senjatanya adalah shabar dalam menhadapi syahawat dan yakin dalam menghadapi syubhat. (al-Anbiya’ : 73, Assajdah : 24 ) Dan ada pula yang menyeru ke neraka, sebagai propagandis menuju pintu-pintu jahannam dengan segala macam caranya. ( al-Qoshash : 41 )
Karena itu marilah kita membangun cita-cita yang luhur, abadikan dan bangun cita-cita kita dalam do’a khususnya harapan untuk memiliki generasi yang sholihin. Amien.(Ahmad Soeharto)
Read More..

Allah lebih Dekat dari urat nadi manusia

Allah tidak bisa dilihat oleh mata,
tidak bisa diuraikan dengan kata kata,
tidak bisa dibantah oleh pikiran,
tidak bisa disentuh oleh tangan,
tidak bisa dibayangkan oleh angan angan,

Allah Maha Dekat, lebih dekat dari urat nadi lehermu.
Allah Maha Mengetahui, lebih tahu dari gerak hatimu.
Allah Maha Pencipta, lebih canggih dari kreativitasmu.
Allah Maha Mendengar, lebih peka dari bisikan bathinmu.

Jika anda ingin mencari Allah, carilanh dahulu dalam relung hatimu.
Jika anda ingin dekat dengan Allah, benahi dahulu cara hidupmu.
Jika anda ingin dicintai Allah, cintai dahulu sesama hidupmu,
Jika anda ingin diterima Allah, bersihkan dahulu hawa nafsumu.

Biasa orang mencari Allah ditempat yang jauh.
Ia mengira Allah itu di ufuk langit.
Sebenarnya dalam hatimu Allah berlabuh.
Membuahkan iman dan taqwa kepada Al-Wajid.

Cari Allah dihatimu.
Jika anda beriman, niscaya Allah bersemayam dalam kalbu.
Tetapi jika anda kafir atheis,
jika hati anda kosong dari Al-Ba`ist,
niscaya pencarianmu akan hampa,
meskipun kau cari diujung dunia.

Allah Ta'ala Berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya." (Surat Qaaf : 16)
Read More..

4 Tanda Sholat Diterima

          Dalam Hadis Qudsi disebutkan mengenai orang-orang yang diterima sholatnya oleh Allah Swt, "Sesungguhnya Aku (Allah Swt.) hanya akan menerima sholat dari orang yang dengan sholatnya itu dia merendahkan diri di hadapan-Ku. Dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Dia tidak mengulangi maksiat kepada-Ku. Dia menyayangi orang-orang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup sholat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan menyuruh malaikat untuk menjaganya. Dan kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Perumpamaan dia dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga." Dalam hadis qudsi tersebut disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang diterima sholatnya oleh Allah Swt., adalah:

Pertama
        Dia datang untuk melaksanakan sholat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Dalam Al-Quran, keadaan seperti itu disebut dengan khusyu'. Dan sholat yang khusyu' adalah salah satu tanda orang yang mukmin. Yang disebut dengan sholat yang khusyu' itu bukan yang tidak ingat apa pun. Karena orang yang tidak ingat apa pun itu disebut pingsan.
          Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib, apabila hendak melakukan sholat, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Sehingga ketika ada orang yang bertanya kepadanya, "Mengapa Anda ya Amirul Mukiminin?" Sayyidina Ali menjawab, "Engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi aku akan menghadapi waktu amanah." Kemudian, Sayyidina Ali membacakan sebuah ayat Al-Quran, "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh" (QS 33: 72).
         Kemudian Sayyidina Ali melanjutkan ucapannya, "sholat adalah suatu amanat Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan bukit untuk memikulnya. Tetapi, mereka menolaknya dan hanya manusia yang sanggup memikulnya. Memikul amanat berarti mengabdi kepadaNya."
 
Kedua
         Dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Jadi, tanda orang yang diterima sholatnya ialah tidak takabur. Takabur, menurut Imam Al-Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar daripada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi ia bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak buah, atau kecantikannya.
          Kalau Anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka Anda sudah takabur. Dan sholat Anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Takkan masuk surga seseorang yang dalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja."
           Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali sifat takabur ini menghinggapi para aktivis masjid atau aktivis kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengai ilmunya dan menganggap dirinya paling benar.
 
Ketiga
        Tanda orang yang diterima sholatnya ialah orang yang tidak mengulangi maksiatnya kepada Allah Swt. Nabi yang mulia bersabda, "Barangsiapa yang sholatnya tidak rnencegahnya dari kejelekan dan kemungkaran, maka sholatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah Swt." Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw. bersabda, "Nanti, pada Hari Kiamat, ada orang yang membawa sholatnya di hadapan Allal Swt. Kemudian sholatnya diterima dan dilipat-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian yang kotor dan usang. Lalu sholat itu dibantingkan ke wajahnya."
         Allah tidak menerima sholat itu karena sholatnya tidal dapat mencegah perbuatan maksiatnya setelah ia melakukan maksiat tersebut. Bukankah Al-Quran telah mengatakan, "...Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar..." (QS 29:45).
 
Keempat
        Orang yang diterima sholatnya ialah orang yang menyayangi orang-orang miskin. Kalau diterjemahkan dengan kalimat modern, hal ini berarti orang yang mempunyai solidaritas sosial. Dia bukan hanya melakukan rukuk dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan rezekinya untuk membahagiakan orang lain.
        Kalau dalam sholat Anda, Anda sudah merasakan kebesaran Allah dan tidak takabur; dan kalau Anda sudah tidak mengulangi perbuatan maksiat sesudah sholat; dan kalau Anda sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap kesejahteraan orang lain, maka Allah akan melindungi Anda dengan jubah kebesaran-Nya. Allah akan memberi kepada Anda kemuliaan dengan kemuliaan-Nya, dan membungkus Anda dengan busana kebesaran-Nya. samping itu, Allah akan menyuruh para malaikat untuk menjaga Anda; dan para malaikat itu akan berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran, "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Didalamnya kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu" (QS 41: 31) wallahu a'am bishawab
 
Read More..

Ilmu Laduni

       Kata laduni, berasal dari kata ladun/laday yang artinya dekat/pangkuan. Ilmu laduni biasa diartikan ilmu dari pemberian Allah. Ilmu laduni biasanya dihubungkan dengan ilmu gaib, biasanya ilmu ini dihubungkan dengan nabi khidir AS. Al Ghazali menyebut Ilmu Laduni adalah ilmu yang dipancarkan langsung oleh Tuhan ke lubuk hati manusia tanpa proses belajar terlebih dahulu melalui proses metode ilmiah. Jadi, prosesnya melalui kasyf atau ilham. Ilmu Laduni yang biasa didapat oleh para Sufi umumnya dicapai melalui kasyf, sedangkan ilmu ta’limiyah di dapat melalui melalui metode pembelajaran.
        Ibn Arabi menjelaskan bahwa ilmu laduni ini terpancar ke dalam hati manusia, tanpa diusahakan dan tanpa menggunakan argumentasi aqliyah (fikiran). Al Qusyairi mendefinisikan bahwa Ilmu Laduni ini dengan sesuatu yang diterima seseorang dengan jalan wijdan (ekstase) dan kasyf (ketersingkapan). Dalam kitab karangannya Al Harawi yang berjudul Manazil As Sairin, disebutkan bahwa Ilmu Laduni adalah ilmu yang diberikan oleh Allah ke dalam hati tanpa sebab yang dilakukan seseorang hamba tanpa menggunakan dalil-dalil. Abdul Qadir memberikan pengertian bahwa ilmu laduni itu ilmu rohani dan pengetahuan hikmah (kebijakan) yang dapat diperoleh melalui perbuatan yang terus menerus dalam waktu lama dalam hal kebaikan dan kesalehan (istiqomah). Dan masih banyak lagi kitab-kitab yang menyebutkan ini seperti Al Jily dalam kitab karangannya Al Insanul Kamil fi ma’rifatil Awakhir wal awail dan Ibn Arabi dalam kitab Futuhat al Makiyah.
Konsep ilmu laduni berasal dari kalimat ”min ladunna iman” artinya ilmu yang diberasal dari sisi Kami (Allah), yang tercantum dalam QS Al Kahfi : 65. Silakan dilihat juga QS Al Kahfi 66-82.
         Dari kisah tadi bisa disimpulkan bahwa ilmu Ladunni adalah ilmu mukasyafah artinya mampu melihat dengan pandangan bathinnya yang berasal dari ilham maupun dari wahyu.
        Hanya perlu diperhatikan bahwa ilmu mukasyafah ini banyak bertentangan dengan ilmu syariat sehingga tidak bisa dijadikan landasan hukum agama. Jadi, hanya sebagai panduan diri sendiri saja dan bagi yang mengerti ilmu ini saja, bisa dijadikan panduan asal tidak bertentangan dengan al Quran dan al hadits.
        Manfaat ilmu mukasyafah adalah untuk menjaga dan mempersiapkan sedini mungkin kemungkinan yang akan terjadi terhadap kita maupun lingkungan sehingga kita dapat mengantisipasi sedini mungkin. Ittaquu firasatal mukmin – percayalah kepada firasatnya orang mukmin.
        Contoh Sahabat yang memiliki ilmu mukasyafah adalah Umar bin Khotob. Ibn Katsir menafsirkan kata muhadatsun pada satu hadits, kata mulhamun yang berarti ilham yang disusupkan ke dalam jiwanya, lalu dengan sesuatu tersebut ia mengabarkan dugaan dan firasat. Dan mulhamun tersebut diberikan kepada orang-orang yang khusus. Ilmu laduni ini biasanya dibahas dalam kajian tasawuf. Wallahu a’alam bishawab

Read More..

BERSIKAP

     
     Sesungguhnya Allah Mencela sikap yang lemah, tetapi hendaklah engkau bersifat kais (cerdas bijaksana). Maka apabila engkau menghadapi persoalan berat (yang dihadapi dengan kesunggguhan) maka ucapkanlah hasbiyallah wani’mal wakil, cukuplah Allah bagiku sebaik-baik pelingdung. (HR. Abu Daud)
Dalam hadist di atas sudah jelas bagi manusia, bahwa hidup itu tidak lepas dari kehidupan yang beraneka ragam, ada yang tenang dalam hidupnya dan ada pula yang bimbang serta ragu, yang semestinya orang harus tahu bahwa pada dirinya ada goresan-goresan yang menyebabkan kurang percaya diri, sehingga notabene tidak bisa menjadikan hidupnya bergairah. Ini kemungkinan ada gangguan yang penyebabnya berupa bisikan-bisikan syaitan yang masuk pada tulang rusuk hatinya.
      Ada pepatah yang mengatakan “Berani karena benar, takut karena salah”. Timbul pertanyaan, apakah di zaman sekarang ini pepatah itu masih berlaku ?”
      Pepatah di atas ialah perenungan dari berbagai macam masalah yang ada dalam berbagai aspek kehidupan lalu dirumuskan dalam kala yang singkat dan padat. Dengan demikian akan terlihatlah bahwa seorang yang berada di pihak yang benar akan berani bertindak, sebaliknya yang salah akan timbul rasa takut dalam jiwanya.
      Demikianlah kita melihat Nabi Muhammad SAW dengan para sahabat, berada di pihak yang benar, selalu berani menghadapi resiko dalam bentuk apapun juga. Begitu pula pahlawan-pahlawan bangsa dan rakyat Indonesia waktu dulu, tegak berjuang mempertahankan tanah air dengan keberanian yang luar biasa menentang imperialisme sang penjajah.
      Tetapi Orang Quraisyi dijaman Nabi Muhammad SAW cukup berani menentang da’wah Rasul, apakah mereka berada di atas prinsip yang hak dan benar ? Di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay komplotan munafik cukup berani bermuka dua, berminyak air, apakah ia dalam kebenaran juga ?
      Apakah Jengis Khan dengan pasukannya meruntuhkan Islam, merampas dan membunuhi kaum muslimin di Asia tengah dan di lanjutkan oleh Holato khan di Bagdad juga dengan sangat beraninya, apakah karena mereka benar ?
      Demikian pula Salibiyah dari barat dengan segala kekuatan dan kedzhalimannya datang ketimur, apakah karena mereka benar ?. Hitler dalam perang dunia II, menggerakan perang dan membunuhi jutaan yahudi, dan ummat manusia dengan kejamnya, apakah dia berda diatas kebenaran ? Demikian pula Lenin Stelia di Sovyet, pada waktu itu menbunuh sekian puluh juta ummat islam dengan kejam, apakah itu karena benar ?
      Dan contoh yang terakhir yaitu pembunuhan biadab terhadap orang-orang Iraq, begitu pula tentara Israel terhadap warga gaza di Palestina, apakah itu juga di atas kebenaran ?
      Tidak dan sekali-tidak, mereka berani bukan karena benar, tetapi berani karena takut. Ketakutan pengaruhnya akan hilang, maka golongan prang-orang Quraisyi dan orang-orang munafik di zaman Rasulullah SAW berani berbuat dan bertindak dzalim. Begitu pula dengan keberaniannya Jengiz Khan-Holato Khan dengan pasukannya, mereka takut akan kekuatan islam. Demikian juga ketakutan Salibiyah akan kekuatan dan kemajuan islam membuat mereka berani menggerakan perang berabad-abad lamanya dari generasi kegenerasi. Begitu juga keberanian Hitler , lenin Stelia dari Sovyet, tentara AS terhadap Iraq, Israel terhadap Palestina dst.
       Dengan ketakutan yang klimaks mendorong mereka untuk bertindak, maju, menggerakan segala kemampuan dan daya anarkisnya tanpa menghitung resiko jauh kedepan.
       Adalah sangat menarik perhatian benar, bahwa dalam Al Qur’an tidak ditemukan sepatah kata pun yang menyebutkan keberanian, kata keberanian dalam bahasa arab di sebut “syaja’ah’ dan jara’ah”.
Tetapi Allah menggambarkan keberanian dalam bentuk dorongan terhadap kaum muslimin agar menjadi kuat, seperti dalam Firmannya “ Janganlah kamu bersikap lemah (dan jangan pula bersedih hati) sebenarnya kamu orang yang paling tinggi (keduduka) jika kamu orang-orang yang beriman”. (Al-Imran 139)
Dengan ayat ini tersirat dorongan berani untuk bangkit dan bergerak. Adapun perkataan takut sangat banyak disebutkan dalam Al Qur’an baik dengan kata “khouf” maupun “khasyyah”.
       Takut (khouf) terhadap Allah tidaklah dimaksud seperti yang timbul dalam hati bagaikan ketakutan terhadap singa. Takut terhadap Allah yang di maksud adalah menahan diri dari maksiat dan mengutamakan ketaatan kepadaNya.
       Di peringatkan juga bahwa “khasyyah” itu juga takut yang disertai ta’dzim (penghormatan tinggi) seperti disebutkan dalam Al Qur’an mengenai orang yang berwatak dan berkepribadian “Tidak ada yang ditakutinya melainkan Allah SWT” (AT-Taubah :19).
      Ada pengertian lain bahwa “khouf” adalah berupa perasaan yang tidak menyenangkan, tidak adanya bahaya yang hakiki pada keselamatan seseorang (umum)., menimbulkan gangguan syaraf dan psykologis yang menuju kearah penambahan emampuan manusia atau hewan untuk menghadapi fakta.
      Jadi bisa dipahani bahwa rasa takut itu bisa membuata orang menjadi maju (berani) atau bahkan mundur ke belakang. Dan tidak heran kalau ada istilahnya berani karena takut dan ada pula saatnya berani karena benar.
Kalau ada orang yang takut terhadap adzab Allah di Dunia dan Akhirat maka dia harus berani mengalahkan getaran-getaran hawa nafsu amarah yang menyeretnya berbuat dosa dan berani membawa yang batil, menegakkan ketaatan dalam bentuk apa saja.
      Begitupun kalau kita takut, masyarakat takut Negara akan jatuh dimata rakyat dan Dunia. Akan jadi apa Negara yang memiliki potensi besar, yang semestinya tidak boleh kalah dengan negeri jiran. Maka pihak yang berwajib (pemerintah) harus ada keberanian untuk menegakkan hukum memberantas korupsi, kedzaliman, kemaksiatan dst, yang menjadi kanker dalam pembangunan selama ini.
      Memang kita harus mencontoh kata ahli tafsir Muhammad Abduh, melahirkan faedah harus ada kekokohan Iman kepada Allah SWT sebelum segala sesuatu dihadapi. Karena getaran-getaran batin yang menimbulkan rasa takut kepada Allah SWT diatas Bumi bersal dari pembantu-pembantu syaitan yang tidak akan lenyap dari lubuk hati melainkan dengan iman yang paling kuat dan benar.
Wallahu ‘lam bishawab
Read More..

Aku Tak Pantas Berharap Surga

    Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
     
     Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

      Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
       
      Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi

       Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
      Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

      Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan A dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
 
     Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
 
      Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah? tempat kita merengkuh surga. 

      Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Read More..

Istighfar Dan Taubat

      Di antara hal yang menyibukkan hati kaum muslimin adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sebagian besar kaum muslimin memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Kemudian tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan hukum halal dan haram.

      Mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah men-syari’atkan agamaNya hanya sebagai petunjuk bagi ummat manusia dalam perkara-perkara kebahagiaan di akhirat saja. Padahal Allah mensyari’atkan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia.
Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu , ia berkata:
“Sesungguhnya do’a yang sering diucapkan Nabi adalah, “Wahai Tuhan Kami’ karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”. (Shahihul Al-Bukhari,)
 
      Allah dan RasulNya tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan dan keraguan dalam usaha mencari penghidupan. Tapi sebaliknya, sebab-sebab mendapat rizki telah diatur dan dijelaskan. Sekiranya ummat ini mau memahami dan menyadarinya, niscaya Allah akan memudahkan mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami ingin menjelaskan tentang berbagai sebab di atas dan meluruskan pemahaman yang salah dalam usaha mencari rizki .
 
        Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya:
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohon ampunlah kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)
 
      Yang dimaksud istighfar dan taubat di sini bukan hanya sekedar diucap di lisan saja, tidak membekas di dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Tetapi yang dimaksud dengan istighfar di sini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “Meminta (ampun) dengan disertai ucapan dan perbuatan dan bukan sekedar lisan semata.”
 
      Sedangkan makna taubat sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang lebih baik (sebagai ganti). Jika keempat hal itu telah dipenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.
      
     Begitu pula Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama berkata. ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga:
1. Hendaknya ia harus menjauhi maksiat tersebut.
2. Ia harus menyesali perbuatan (maksiat) nya.
3. Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.
 
Jika salah satu syarat hilang, maka taubatnya tidak sah.
       Jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat, yaitu ketiga syarat di atas ditambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan, jika berupa had (hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas atau meminta maaf kepadanya dan jika berupa qhibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.
 
      Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (surat Nuh: 10-12) berkata: “Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya, niscaya Ia akan memperbanyak rizki kalian, Ia akan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu, memperbanyak harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat macam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun untuk kalian.
 
      Imam Al-Qurtubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasannya ia berkata: “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain lagi berkata kepadanya, ’Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!!’ maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Beristighfar kepada Allah! Dan yang lainnya lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula),’Beristighfarlah kepada Allah!.
Kemudian di ayat yang lain Allah yang menceritakan tentang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar.
“Dan (Hud berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia kan menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan membawa kekuatan kepada kekuatanmu dan juga janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)
 
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar sehingga dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintah-kan bertaubat untuk waktu yang mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaanya.
 
Dan pada surat Hud di ayat yang lain Allah juga berfirman:
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya (jika kamu mengerjakan yang demikian (niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Hud: 3).
 
Imam Al-Qurthubi mengatakan:”Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Allah tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.”
 
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” ( Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i Ibnu Majah )
Dalam hadist yang mulia ini, Nabi menggambarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Esa, Yang memiliki kekuatan akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak pernah diharapkan serta tidak pernah terbersit dalam hati.
      
     Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaklah kita selalu waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta. Walahu a’lam bisawab
Read More..
Thank you 4 your visit

Info Sang Khalifah

Member Follow ME

Presented by

bisnis internet

free web site trafffic and promotion
Page Rank Check
Law Blogs

Ikut Gabung Yuk..!!
There will be no exception Eternal Eternity Itself - Sang Khalifah - Copyright 2010 - Muhammad Deden Suryadiningrat - I Could If I'm Doing I Can Surely