*==[[ Terimakasih Atas Kunjungannya ]]==*

1. Worldview
2. Ad-Dien
3. Wajah Barat
4. Tuhan Filsafat
5. Membangun Peradaban
6. Fe-Minus
7. Perkawinan dalam Perspektif Hukum Islam
8. Poligami and Married Siri
9. Berpolitiklah Secara Islami
10. Saat Nyawa di Tangan Manusia
11. Reasons and Prosedure Polygamy
12. Social Order Creating Fair in Islam
13. Islamic Law at Indonesian Waris
14. Pemimpin Yang Alim
15. Fakta Sejarah
16. Aslim Taslam
17. Pluralisme
18. Blasphemy
19. Ideology Pancasila
20. 5 Prinsip Menyikapi Faham Islam Liberal
21. Religius Humanis
22. Kesalahpahaman Makna Jihad
23. Madzhab Yang Beda
24. Islamisasi Ilmu
25. Liberalisme<< Batu Sandungan Pemikiran
26. Gender dalam Perspektif Islam
27. Konsep Pendidikan Islam Menurut Fazlur Rahman
28. Konstitusi Piagam Madinah
29. Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa
30. Uzlah Dalam Pandangan Dr. Wahbah Zuhaili
31. Yasinan dan Tahlilan
32. Seni Keindahan Visual Menurut Dr. Yusuf Qardhawi
33. Islam Phobia
34. Hukum Memperingati Isra Mi'raj
35. Pernikahan Beda Agama
36. Zakat Konsep Harta yang Bersih
37. Budaya Ilmu dan Peradaban Buku
38. Virginisty vs Prostitusy
39. Aqidah Islam: Asas Kemenangan
40. Sepak Terjang Sekularisme
41. Hermeneutika Sebagai Produk Pandangan Hidup
42. Urgensi Pemberdayaan Umat Lewat Mesjid
43. Fatwa MUI Tentang Hak Cipta
44. Pendidikan Islam vs Pendidikan Barat
45. Film "?" Apa maunya ?
46. Menjaga Pemikiran di Bulan Ramadhan
47. Sunni-Syiah dalam Nauangan Khilafah
48. Mitos Tentang Perayaan Natal Bersama
49. Interfaith Dialogue dan Relativisme Beragama
1. Arti Cinta Dalam Kehidupan
2. Looser or Winner
3. What Is Love
4. Aku Ingin Menjadi Detik
5. Bila Hati Berbalut Cemas
6. Berwudhu dan Memandang dengan Syahwat
7. Bersikap
8. Aku tak Pantas Berharap Surga
9. Istighfar dan Taubat adalah Kunci Rizki
10. Indahnya Istiqomah
11. Hanya Allah Temapt Bergantung
12. Untukmu Ibu
13. Istimewanya Seorang Wanita Muslimah
14. Tanamkan Akidah Sejak Usia Dini
15. What is Love..??
16. Definition of Love
17. Taukah Anda Hai Wanita..?
18. Sifat Alam Tersirat dalam Al-Qur’an
19. Perluasan Alam Semesta di Al Qur’an
20. Pengetahuan Sidik Jari di Al Qur’an
21. Masalah Genetka di Al Qur’an
22. Mahluk-Mahluk Bercahaya
23. Lauh Mahfuzh Kitab Terpelihara
24. Langit yang mengembalikan
25. Kematian Sejati
26. Kebesaran Allah pada Planet Bumi
27. Keajaiban Tumbuhan
28. Islam Menyelesaikan Permasalahan
29. Fisika Kimia Kenyataan Ghaib
30. Dimensi Lain dalam Materi
31. Berita Masa Depan
32. Bagian I Sejarah Berdarah Komunisme
33. Bagian II Manusia Bukan Hewan
34. Sang Legenda Buya Hamka
35. Homeschooling,Alternatif Pendidikan
36. Qiyas
37. Maslahat Mursalah
38. Saddudz Dzariah
39. 'Urf
40. Singa Padang Pasir Khalid bin Walid
41. Siapa sebenarnya ahli sunnah waljama'ah..??
42. Biografi Sang Proklamator
43. Biografi Wahbah Zuhaili
44. Hikmah Diharamkannya Menikahi Saudara Perempuan
45. Mari Menangis
46. Wudhu Sarana Refleksi
47. Fatwa_Fatwa Nikah
48. Hakekat Memakai Jilbab
49. Ibn Khaldun-Bapa Sejarah Kebudayaan
50. Al-Faraby: Ahli SEjarah Sekaligus Ilmuwan
51. Ibn Battuta-Sang Pengembara
52. Ibn Rusyd- Ahli Falsafah, Kedokteran & Ilmu Fiqh
53. Ibn Sina-Bapa Perobatan Modern
54. Hikmah DI Haramkannya Babi
55. Ar Razy, Bapak Pakar Sains
56. Ibnu Taimiyah
57. Al-Haitam- Bapak Optik Modern
58. Potret Imam Syafii:Sang Mujaddid
59. Manusia VS Mayat
60. Ilmu Laduni
61. 4 Tanda Sholat Diterima
62. Mengingat Kematian
63. Ayah !!Ayo kita Sholat...
64. Hormati Ibumu
65. Ya Allah..!!
66. Pikirkan dan Syukurilah..!!
67. Kelola Hati Nuranimu Hingga Memancarkan Hikmah
68. Orang-orang yang dido'akan Malaikat
69. Yang Lalu Biarlah Berlalu
70. 1001 Hikamh Shalat Subuh
71. 10 Sandaran Meneguhkan Iman
72. Memanfaatkan Waktu Pada Bulan Ramadhan
73. Hari Ini Adalah Milik Anda
74. Ingatkan Aku
75. Kata Non Muslim Tentang Muhammad
76. Tak Sesulit Yang Kita Bayangkan
77. Pahala Dua Kali Lipat
78. Mengenal Surat Al-Fatihah
79. Maraknya Bencana: Adzab apa Ujian ?
80. Bertambahnya Ni'mat
81. Kiat-kiat Rasulullah SAW
82. Miftahul Jannah (Kunci Surga)
83. Yang Paling dari Imam Al-Ghozali
84. Kumpulan Kata Motivasi Sang Khalifah
85. Surat Dari GAZA
86. Allah Lebih Dekat Dari Urat Nadi Manusia
87. Terapi Air Putih
88. Air Kehidupan
89. Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal
90. Mutiara dari "Sepatu Dahlan"

Mutiara dari 'Sepatu Dahlan'

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.

Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata.
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan.
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit.
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam.., maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
 

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHANHATI.

Tetap semangat...Tetap sabar....Tetap tersenyum...!Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN. TUHAN menaruhmu di "tempatmu" yang sekarang, bukan karena "KEBETULAN". Orang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan,kesenangan, dan kenyamanan MEREKA dibentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.

(Disadur dari Buku "Sepatu Dahlan")
Read More..

Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal

Entah mengapa aku kangen dengan note kecilku semasa karantina dulu, lembar demi lembar aku baca ternyata didalamnya aku temukan kembali nasehat guruku yang sudah lama aku cari- cari. Nasehat pendek namun bagiku begitu bermakna. Sengaja aku tulis disini supaya aku bisa mudah menemukannya kembali. Semoga bermanfaat bagi yang membaca.

“Yang bergelar doktor, mudah-mudahan keikhlasannya juga bertingkat doktor. Jangan sampai keikhlasan menjadi turun dengan titelnya. Jangan sampai kita tertipu dengan titel kita.

Jangan sampai kita hanya dianggap besar, tinggi, kaya dan maju. Atau merasa maju, besar, tinggi, dan kaya.

Di atas kita ada Allah. Di atas orang yang berilmu ada yang lebih berilmu. Jangan sampai kamu tidak menghargai sesuatu yang seharusnya dihargai. Jangan sampai kamu menghargai sesuatu yang tidak seharusnya dihargai.”

Singkat padat namun begitu dalam makna yang terkandung didalamnya. Semoga kemulian dan kesehatan selalu menyertaimu wahai guruku.
Read More..

Air Kehidupan

Biarkan air mengalir sesuai dengan tujuan nya karna di depan akan banyak pertemuan dengan air lainya atau mungkin jalur lain, hanya saja jangan sampai terbawa arus sampai pada titik rendah, karna akan sangat sulit untuk kembali menuju tempat tertingi.

Dalam aliran nya banyak hal yang dijalani sebagai bentuk persiapan, terpecah batu atau memecah batu, membawa ikan atau membunuh ikan, kerikil, kepiting, pasir dan lainnya, semua akan di dapat sesuai dengan fungsinya....

PR nya adalah mempersiapkan diri untuk bersikap bijak menyambut hal-hal yang di temukan dalam aliran tersebut sampai di titik terakhir dimana perjalanan terhenti yaitu Kematian.

#Allah tak pernah bingung memberikan yang terbaik bagi kita.
Read More..

Interfaith Dialogue dan Relativisme Beragama

Oleh: Kholili Hasib
Di awal tahun 2013, sebuah lembaga bernama Committee for Interfaith Tolerance Indonesia (CINTA) Indonesia berencana mengadakan roadshow dialog antar agama (interfaith dialogue) di lima kota di Indonesia. Di antaranya, di Lombok (12-13 Januari), Malang (19-20 Januari), Palembang (26-27 Januari), Manado (12 Februari) dan Jakarta (23-24 Februari). 
      Dalam rilis yang beredar di media, dialog antar agama yang disponsori oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat dan UNESCO ini akan diisi dengan kegiatan mengunjungi tempat-tempat ibadah dan pengamatan mengenai konsep sebenarnya dari agama yang bersangkutan dan mentoring cara berdialog antar agama.
     Sejak abad ke 20, Barat (Kristen) sangat bersemangat mengajari Muslim di Dunia toleransi, dan dialog lintas iman. Barat tidak pernah mengajari Yahudi, ataupun sangat jarang mengkampanyekan di masyarakat Hindu atau Budha. Padahal, sampai pada abad ke-19 perseteruan hebat antara Kristen dan Yahudi terjadi. Mungkin cara pandang Kristen Barat terhadap Muslim yang masih salah.
    Islam dilihat sebagai ancaman besar. Dendam perang Salib belum hilang. Padahal yang memulai perang Salib adalah Barat. Pasca kemenangan perang Salib, Muslim dunia tidak mengancam-ancam Barat (menginvasi). Yang terjadi kemudian fitnah, bahwa Muslim pelaku utama intoleransi, kekerasan dan peperangan (jihad). 
     Maka, dialog antar agama tersebut bertujuan mengajarkan toleransi beragama. Tapi masalahnya, cara yang ditempuh mengharuskan eliminasi ajaran dasar (akidah). Mengikuti ritual agama lain, dengan dalih apapun, tidak perlu. Nabi Muhammad saw memberi contoh cerdas. Beliau menolak mengikuti misa orang Nasrani (QS al-Kafirun 1-5). Tapi beliau menjadi contoh paling baik pemimpin yang bertoleransi. 
     Gagasan interfaith dialogue sejak awal bermasalah. Pertama-tama diadakan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1964. Ia mendirikan lembaga the Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID). Dialog dibangun dengan semangat teologi inklusivisme Kristen. Konon, Kristen pada 1965 membuka teologinya bahwa kaum di luar Gereja juga selamat. Disebut Anonymous Christian atau Kristen tanpa nama. Tapi sejatinya, Gereja Vatikan tetap bertahan bahwa Kristenlah yang selamat. 
      John Hick, dari Universitas Brimingham Inggris, mengatakan dialog antar agama harus menghasilkan cara pandang pluralis terhadap agama. John Hick adalah professor teologi dari Inggris yang terkenal dengan gagasannya yang pluralis, yaitu global theology. 
     Hick mengatakan bahwa Kristen sama sekali tidak menganggap orang di luar Kristen sebagai non-Kristen akan tetapi, mereka perlu dipertimbangkan sebagai Kristen ‘anonim’. Untuk itu, lanjut Hick, harus ada dialog untuk mencapai tujuan teologis tersebut. 
       Bagi Hick, interfaith dialogue adalah sarana. Produknya adalah pluralisme. Bagi Paus Pulus VI, interfaith dialogue merupakan alat mengkristenkan cara pandang Muslim. Kristenisasi modern bukan dengan konversi, tapi seperti diumumkan oleh Samuel Zwemmer pada konferensi Misionaris di Yerussalem dengan cara destruksi pemikiran. Keduanya bermasalah, sama-sama mereduksi keimanan Muslim. Tidak ada pula jaminan, toleransi berjalan penuh kedamaian. Di kota tempat konferensi Zwemmer, hak-hak Muslim dipangkas. 
     Dialog lintas iman model Paus Paulus VI dan John Hick mengajarkan relativisme beragama. Doktrin relativisme menepikan agama. Ia mengajarkan, agama tidak boleh lagi berhak mengklaim mempunyai kebenaran absolut. 
     Cara beragama seseorang itu hanyalah penafsiran orang terhadap agama. Karena dianggap penafsiran, maka itu relatif. Yang absolut hanya Tuhan. Syariah itu relatif. Maka ritual ibadah Muslim tidaklah ada jaminan itu satu-satunya jalan menuju sorga. Inilah letak arogansinya relativisme.
     Ia menjadi ‘jantung’ paham pluralisme agama. Target akhirnya adalah umat Islam tidak lagi masalah jika mengikuti cara berfikir Barat yang sekuler liberal. Sebab, dianggap cara berfikir Islami, sekularis, dan liberalis semuanya tidak absolut. Semuanya hasil tafsiran manusia. 
    Jadi, relativisme dan sekularisme sejatinya tidak toleran. Melarang Muslim memakai jilbab di tempat publik. Memakai jilbab dikhawatirkan menabur benih-benih fundamentalisme. Seperti kejadian di Prancis, Jerman dan Negara-negara Barat lainnya. Suara adzan di larang di Swiss. Padahal di Indonesia, suara lonceng gereja tiap minggu tidak dimasalahkan. Di Bali, masyarakat Hindu bebas memakai pakaian adat Hindunya. 
     Sebenarnya, interfaith dialogue tidak sekedar mengajarkan toleransi, tapi mendidik untuk mencurigai doktrin-doktrin agama yang fundamental. Jika ada cara pandang yang curiga, bagaimana akan terbentuk toleransi yang damai? Kecurigaan hanya akan melahirkan kesalahpahaman. Kata Diana L. Ec toleransi dalam pluralisme itu merupakan ‘kebaikan’ yang menipu (Diana L. Eck, From Diversity to Pluralism).
      Rasulullah saw pernah berdialog dengan kaum Yahudi dan Kristen. Tapi Rasulullah saw tidak memakai logika relativisme, dan menolak mengikuti ritual mereka dengan dalih untuk mengenal. Rasulullah saw berdialog untuk membuktikan bahwa Islam adalah yang benar. 
    Suatu hari Rasulullah saw berdialog dengan kaum Nasrani Najran. Keterangan-keterangan Rasulullah mengenai ketauhidan Allah swt tidak diterima oleh orang Nasrani Najran. Rasulullah mengajak mubahalah untuk membuktikan mana yang benar. Akan tetapi, kaum Nasrani menolak. Mereka khawatir jika mereka benar-benar bersumpah akan binasa. 
    Rasulullah saw sebenarnya sangat menginginkan kaum Nasrani Najran tersebut memeluk Islam. Rasulullah saw berkenan berdialog karena beliau ingin mereka masuk Islam. Namun turunlah ayat, Surat Ali Imran : 64. Dalam keterangan Syekh Nawawi al-Bantani, kandungan ayat itu melarang menggunakan metode jidal, sebab jidal ternyata tidak mengubah pendirian mereka (Syekh Nawawi al-Bantani, Maroh Labid li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid I/131). 
    Ketika Yahudi dan Nasrani berdebat tentang status agama mereka, Rasulullah saw bersabda: “Masing-masing golongan (Yahudi dan Nasrani) berlepas dari Nabi Ibrahim as. Akan tetapi Nabi Ibrahim adalah seorang Muslim yang hanif dan aku setiap pada ajarannya, maka ikutilah agamanya, yaitu Islam” (al-Qurtubi, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an 4/127). 
     Nabi saw pernah dialog. Tapi dialog itu bertujuan dakwah. Yakni mengajak mereka meyakini bahwa Islam agama yang diridhai Allah. Dakwah mengajak selamat yaitu dengan kembali kepada tuhid. Dengan semangat ini justru Nabi menjadi contoh terbaik di dunia dalam toleransi. 
    Interfaith dialogue yang diadakan Barat juga bertujuan ‘da’wah', tapi bukan dakwah mengajak tauhid. Justru mengajak untuk meyakini bahwa semua agama sama baik dan benarnya. Sementara toleransi di Barat terhadap Muslim masih diragukan. 
     Anehnya, Muslim liberal tidak meniru Nabi yang toleransinya teruji. Namun justru mengikuti Kristen Barat untuk belajar toleransi. Padahal mereka tidak mengajarkan toleransi tapi mengajarkan relativisme beragama.
Read More..

Mitos Tentang Perayaan Natal Bersama

     Written by Adian Husaini
     Menjelang perayaan Hari Natal, 25 Desember, ada sebagian kalangan kaum Muslim yang kembali menggugat fatwa MUI tentang “haramnya seorang Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama.” Ada yang menyatakan, bahwa yang melarang Perayaan Natal Bersama (PNB) atau yang tidak mau menghadiri PNB adalah tidak toleran, eksklusif, tidak menyadari pluralisme, tidak mau berta’aruf, dan sebagainya. Padahal orang Islam disuruh melakukan ta’aruf (QS 49:13).Banyak yang kemudian berdebat “boleh dan tidaknya” menghadiri PNB, tanpa menyadari, bahwa sebenarnya telah banyak diciptakan mitos-mitos seputar apa yang disebut PNB itu sendiri. 
     Pertama, mitos bahwa PNB adalah keharusan. Mitos ini seperti sudah begitu berurat-berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu. Padahal, bisa dipertanyakan, apa memang perlu diadakan PNB? Untuk apa? Jika PNB perlu, bahkan dilakukan pada skala nasional dan dijadikan acara resmi kenegaraan, maka perlukah juga diadakan WB (Waisak Bersama), NB (Nyepi Bersama), IFB (Iedul Fitri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), IMB (Isra’ Mi’raj Bersama), IB (Imlek Bersama). Jika semua itu dilakukan, mungkin demi alasan efisiensi dan pluralisme beragama, akan ada yang usul, sebaiknya semua umat beragama merayakan HRB (Hari Raya Bersama), yang menggabungkan hari raya semua agama menjadi satu. Di situ diperingati bersama kelahiran Tuhan Yesus, peringatan Nabi Muhammad SAW, dan kelahiran dewa-dewa tertentu, dan sebagainya. 
     Keharusan PNB sebenarnya adalah sebuah mitos. Jika kaum Kristen merayakan Natal, mengapa mesti melibatkan kaum agama lain? Ketika itu mereka memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka mengapa mesti memaksakan umat agama lain untuk mendengarkan cerita tentang Yesus dalam versi Kristen? Mengapa doktrin tentang Yesus sebagai juru selamat umat manusia itu tidak diyakini diantara pemeluk Kristen sendiri?  
     Di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, seperti Indonesia, wacana tentang perlunya PNB adalah sebuah keanehan. Kita tidak pernah mendengar bahwa kaum Kristen di AS, Inggris, Kanada, Australia, misalnya, mendiskusikan tentang perlunya dilaksanakan IFB (Idul Fitri Bersama), agar mereka disebut toleran. Bahkan, mereka tidak merasa perlu menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur nasional. Padahal, di Inggris, Kanada, dan Australia, mereka menjadikan 26 Desember sebagai “Boxing Day” dan hari libur nasional. Selain Natal, hari Paskah diberikan libur sampai dua hari (Easter Sunday dan Esater Monday). Di Kanada dan Perancis, Hari Natal juga libur dua hari. Hari libur nasional di AS meliputi, New Year’s Day (1 Januari), Martin Luther King Jr Birthday (17 Januari), Washingotn’s Birthday (21 Februari), Memorial Day (30 Mei), Flag Day (14 Juni), Independence Day (4 Juli), Labour Day (5 September), Columbus Day (10 Oktober), Veterans Day (11 November), Thanksgiving’s Day (24 November), Christmas Day (25 Desember). 
     Kedua, mitos bahwa PNB membina kerukunan umat beragama. Mitos ini begitu kuat dikampanyekan, bahwa salah satu cara membina kerukunan antar umat beragama adalah dengan PNB. Dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, bahwa Yesus adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16). Satu kepercayaan yang dikritik keras oleh al-Quran. (QS 5:72-73, 157; 19:89-91, dsb). 
     Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak, adalah satu “Kejahatan besar” (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak.” (QS 19:90-91). 
     Prof. Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tetapi menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka menulis tentang usulan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fitri bersama, karena waktunya berdekatan: “Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah". 
     Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah saru ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Pada hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. 
    Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.” Demikian kutipan tulisan Prof. Hamka yang ia beri judul: “Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme.” 
     Ketiga, mitos bahwa dalam PNB orang Muslim hanya menghadiri acara non-ritual dan bukan acara ritual. Untuk menjernihkan mitos ini, maka yang perlu dikaji adalah sejarah peringatan Natal itu sendiri, dan bagaimana bisa dipisahkan antara yang ritual dan yang non-ritual. Sebab, tradisi ini tidak muncul di zaman Yesus dan tidak pernah diperintahkan oleh Yesus. Maka, bagaimana bisa ditentukan, mana yang ritual dan mana yang tidak ritual? Yang jelas-jelas tidak ritual adalah menghadirkan tokoh Santa Claus, karena ini adalah tokoh fiktif yang kehadirannya dalam peringatan Natal banyak dikritik oleh kalangan Kristen. Sebuah situs Kristen (www.sabda.org), menulis satu artikel berjudul: “Merayakan Natal dengan Sinterklas: Boleh atau Tidak?” 
      “Dikatakan, dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Santa Claus and the Christian Response to Him (Asal-usul Sinterklas dan Tanggapan Orang Kristen Terhadapnya), Pastor Richard P. Bucher menjelaskan bahwa tokoh Sinterklas lebih merupakan hasil polesan cerita legenda dan mitos yang kemudian diperkuat serta dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis. 
     Sinterklas yang kita kenal saat ini diduga berasal dari cerita kehidupan seorang pastor dari Myra yang bernama Nicholas (350M). Cerita yang beredar (tidak ditunjang oleh catatan sejarah yang bisa dipercaya) mengatakan bahwa Nicholas dikenal sebagai pastor yang melakukan banyak perbuatan baik dengan menolong orang-orang yang membutuhkan. Setelah kematiannya, dia dinobatkan sebagai "orang suci" oleh gereja Katolik, dengan nama Santo Nicholas. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sinterklas sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen… Akhirnya, sebagai guru Sekolah Minggu kita harus menyadari bahwa hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah menjadikan Kristus sebagai berita utama dalam merayakan Natal -- Natal adalah Yesus.” 
     Mitos tentang Santa Claus ini begitu hebat pengaruhnya, sampai-sampai banyak kalangan Muslim yang bangga berpakaian ala Santa Claus. 
      Keempat, mitos bahwa tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Melihat PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat.
   Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan Gereja Kristen. Konsili Vatikan II (1962-1965), yang sering dikatakan membawa angin segar dalam hubungan antar umat beragama, juga mengeluarkan satu dokumen khusus tentang misi Kristen (The Decree on the Missionary Activity) yang disebut “ad gentes” (kepada bangsa-bangsa). Dalam dokumen nostra aetate, memang dikatakan, bahwa mereka menghargai kaum Muslim, yang menyembah satu Tuhan dan mengajak kaum Muslim untuk melupakan masa lalu serta melakukan kerjasama untuk memperjuangkan keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian, dan kebebasan. (“Upon the Moslems, too, the Church looks with esteem. They adore one God, living and enduring, merciful and all-powerful, Maker of heaven and earth …Although in the cause of the centuries many quarrels and hostilities have arisen between Christians and Moslems, this most sacred Synod urges alls to forget the past and to strive sincerely for mutual understanding On behalf of all mankind, let them make common cause of safeguarding and fostering social justice, moral values, peace, and freedom.”). 
     Tetapi, dalam ad gentes juga ditegaskan, misi Kristen harus tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi “sakramen universal penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men). Juga ditegaskan, semuya manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan. (Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church's preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body).       Tentu adalah hal yang normal, bahwa kaum Kristen ingin menyebarkan agamanya, dan memandang penyebaran misi Kristen sebagai tugas suci mereka. Namun, alangkah baiknya, jika hal itu dikatakan secara terus-terang, bahwa acara-acara seperti PNB memang merupakan bagian dari penyebaran misi Kristen.
     Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim menghormati fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang umat Islam untuk menghadiri PNB. MUI tidak melarang kaum Kristen merayakan Natal. 
     Fatwa itu adalah untuk internal umat Islam, dan sama sekali tidak merugikan pemeluk Kristen. Fatwa itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian aqidah Islam dan menghormati pemeluk Kristen dalam merayakan Hari Natal. Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. 
     Kalangan Kristen ketika itu, melalui DGI dan MAWI, banyak mengkritik fatwa tersebut. Mereka menilai fatwa itu berlebihan dan tidak sejalan dengan semangat kerukunan umat beragama. Kalangan Kristen dari luar negeri juga banyak yang berkomentar senada. Padahal, sebenarnya aneh, jika kalangan Kristen yang meributkan fatwa ini. Lebih ajaib lagi, jika ada yang mengaku Muslim meributkan fatwa ini, karena mungkin “kebelet” merayakan Hari Natal dan ingin disebut toleran. 
    Kalau terpaksa harus merayakan Natal, tidaklah bijak jika harus menggugat soal hukumnya. Apalagi, kemudian, melegitimasi dengan satu atau dua ayat al-Quran yang ditafsirkan sekehendak hatinya. Untuk memahami masalah salat, tidaklah cukup hanya mengutip ayat al-Quran dalam surat al-Ma’un: “Celakalah orang-orang yang salat.” Masalah peringatan Hari Besar Agama, sudah diberi contoh dan penjelasan yang jelas oleh Rasulullah SAW, dan dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Sebaiknya hal ini dikaji secara ilmiah dari sudut ketentuan-ketentuan Islam. Untuk berijtihad, memutuskan mana yang halal dan mana yang haram, memerlukan kehati-hatian, dan menghindari kesembronoan. Sebab, tanggung jawab di hadapan Allah, sangatlah berat. Tidaklah cukup membaca satu ayat, lalu dikatakan, bahwa masalah ini halal atau haram. 
    Lain halnya, jika seseorang yang memposisikan sebagai mujtahid, tidak peduli dengan semua itu. Untuk masalah hukum-hukum seputar Hari Raya, misalnya, bisa dibaca Kitab “Iqtidha’ as-Shirat al-Mustaqim Mukhalifata Ashhabil Jahim”, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).
   Sejak awal mula, Islam sadar akan makna pluralitas. Islam hadir dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat beragama lain, disaat kaum Kristen Eropa menyerukan membunuh kaum “heresy” karena berbeda agama. Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam memberikan perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen di Jerusalem, Beliau adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa pengrusakan dan pembantaian manusia. Namun, Umar r.a. tidak mengajurkan kaum Muslim untuk berbondong-bondong merayakan Natal Bersama. 
     Peringatan Hari Raya Keagamaan, sebaiknya tetap dipertahankan sebagai hal yang eksklusif milik masing-masing umat beragama. Biar masing-masing pemeluk agama meyakini keyakinan agamanya, tanpa dipaksa untuk menjadi munafik. Masih banyak cara dan jalan untuk membangun sikap untuk saling mengenal dan bekerjasama antar umat beragama, seperti bersama-sama melawan kezaliman global yang menindas umat manusia. Dan untuk itu tidak perlu menciptakan mitos tentang seorang tokoh fiktif bernama Santa Claus untuk menjadi juru selamat manusia, khususnya anak-anak. Wallahu a’lam.
Read More..

Terapi Air Putih

     Mengapa Rasulullah SAW melarang kita minum smbil berdiri? Ternyata secara medis dalam tubuh manusia terdapat penyaring Sfringer. Saringan tersebut dapat terbuka ketika kita duduk, dan tertutup ketika kita berdiri. Air yg kita minum belum 100% steril untuk diolah oleh tubuh. Bila kita minum sambil berdiri, maka air tidak tersaring oleh sfringer karena tertutup. Air yang tidak tersaring oleh sfringer langsung masuk ke kantung kemih, dapat manyebabkan penyakit kristal ginjal. Subhanalloh, tiap perintah dan larangan Rasul pasti bermanfaat bagi umatnya. 
 Terapi air putih: 
1). Minum 2 gelas setelah bangun tidur dapat membersihkan organ-organ internal. 
 2). Minum segelas air, 30 menit sebelum makan dapat membantu fungsi seluruh pencernaan + ginjal. 
 3). Minum segelas air sebelum mandi dapat menurunkan tekanan darah. 
4). Minum segelas air sebelum tidur dapat mencegah stroke + serangan jantung. 
        Metode penyembuhan ini tidak mempunyai efek samping, hanya, pada awal terapi, Anda mungkin akan sering buang air kecil. Namun jangan lantas berhenti, karena dalam beberapa hari, tubuh akan mulai terbiasa. Minum Air hangat setelah makan 
       Masih tentang air, tapi kali ini kita akan membahas kebiasaan orang China dan Jepang yang selalu minum teh atau air hangat setelah makan. Berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia yang lebih suka menyeruput air es teh usai menyantap bakso panas atau makanan lainnya. 
        Memang enak untuk minum minuman dingin setelah makan, terlebih dalam cuaca panas seperti sekarang ini. Akan tetapi, air dingin akan memadatkan minyak yang dikonsumsi. Ia akan memperlambat pencernaan, karena pencernaan membutuhkan suasana yang encer, cair dan bukan memadatMari berbagi tips sehat dengan mengirimkan pesan ini ke teman & keluarga ter cinta. Dari berbagai sumber. Wallahu a’lam.
Read More..

Keluarga: Membangun Generasi Muttaqin

       Do’a menunjukkan orientasi hidup dan cita-cita seseorang, siapa yang perhatiannya hanya urusan duniawi, do’anya terbatas pada masalah-masalah duniawi, dan siapa yang mengharapkan akhirat do’anya akan mengarah kesana.
     Bahkan ketika hajji, banyak orang yang hanya menghususkan do’anya untuk urusan-urusan duniawi ( jodoh, pekerjaan, pangkat, karir dll ) sehingga dia tidak mempunyai lagi bagian di akhirat. Sementara itu sebagian lainnya memohon kebaikan dunia dan akhirat serta terbebas dari api neraka, mereka inilah yang terpuji dan akan mendapatkan apa-apa sesuai dengan usahanya. ( al-Baqoroh : 200).
      Apa yang semestinya menjadi cita-cita dan do’a orang-orang beriman ?. Untuk hal ini kita bisa belajar dari al-Qur’an yang telah memberikan tuntunan gamblang :
a. Doanya orang-orang yang mendalam ilmunya ( arrasikhun ) adalah memohon agar diteguhkan hatinya, serta mendapat limpahan rahmah ( Ali Imron : 8 ).
b. Ulul albab memohon ampunan setelah memenui panggilan iman, juga memohon dihapusnya kesalahan dan husnul khotimah ( Ali Imron : 193 – 194)
c. Ashabul kahfi memohon limpahan rahmah, serta bimbingan dalam segala urusan mereka ( al-Kahfi : 10 )
d. Nabi Ibrohim memohon kebaikan generasi yang menjadi penegak sholat (brohim : 40 - 41 )
e. Do’a-do’a nabi Muhammad SAW kalau kita teliti untuk memhami apa yang menjadi cita-cita beliau, kita akan temukan do’a-do’a yang sangat istimewa.
      Pada kesempatan ini kita mencoba untuk menelaah apa yang menjadi cita-cita dan do’a para ibadurrahman, seperti yang diabadikan Allah dalam al-Furqon : 74. Yakni memohon kebaikan generasi penerus, agar menjadi qurratu ‘ain, sholihin, taat kepada Allah jauh dari ma’shiat.
       Pandangan mata dan hati kita akan sejuk manakala kita mempnyai istri yang sholehah (menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh, menjaga amanah saat kita pergi, membantu kita dalam ketaatn dan urusan akhirat, menggeraqkkan keimanan kita, mwncegah kita dari ma’shiat dst. Bukan justru yang membuat kita celaka dengan mengolok-ngolok kefakiran kita, membanding-bandingkan kita dengan tetangga dalam urusan dunia sehingga mendorong kita untuk mengambil jalan pintas dalam mencari rizqi.
      Wanita salaf bila mengantar suaminya untuk bekerja berpesan “ Jangan sampai anda mencari rizki yang haram, karena kami lebih tahan menderita lapar daripada menahan siksa neraka “. Ucapan ini akan sangat membantu suami, menjadi rem agar tidak memakan harta haram, menerima suap, pungli, korupsi dll. “Berhentilah pada batasan Allah, cariyang halal, jauhi yang haram bahkan hindarilah yang subhat, karena barangsiap ayang menjauhi subhat sungguh telah menyelamatkan agamanya, dan yang meremahkan syubhat dan terperosok ke dalamnya, sama saja dengan terperosok dalam haram. ( H.R. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah ) Tinggalkan yang engkau ragukanmenuju yang tidak meragukan.
      Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang sholehah (H.R. Muslim, Nasai dan Ibnu Majah ) Wanita yang menjadi perhiasan, bukan sekedar yang cantik, yang kaya, tetapi yang mempunyai mentalitas dan akhlaq agama ( dzatuddin ). Wanita yang demikian yang akan menadji lahan subur untuk menyemai generasi sholihin, karena ia akan menjadi pendidik utama bagi keluarganya.
Diterangkan dalam hadist bahwa setelah taqwa kepada Allah, hal terbesar yang bisa dimanfaatkan oleh seorang lelaki adalah : istri yang sholehah, kalau disuruh taat, kalau dilihat menyenangkan, kalau diberi nafaqoh diterima dengan baik, ( disyukuri ) dan bila ditinggal pergi dia bisa menjadi penasehat bagi dirinya dan harta benda suaminya (H.R. Ibnu Majah )
       Dalam al-Qur’an Allah menjelaskan diantara ciri wanita sholehah adalah yang taat kepada Allah, serta menjaga yang ghoib, apa-apa yang dijaga oleh Allah ( An-nisa’ : 34 ). Ia menjaga dirinya, suaminya, kehormatannya, anak-anaknya, harta benda, rahasia dll.
       Itulah tadi ciri-ciri wanita sholehah yang menjadi dasar kebahagiaan rumah tangga : Diantara kebahagiaan bani adam adalah : wanita sholehah, tempat tinggal yang baik dan kendaraan yang baik ( H.R. Ahmad ) . Empat hal yang apa bila diberikan kepada seseorang sungguh telah diberikan kepadanya kebaikan dunia dan akirat : hati yang bersyukur, lidah yang berdzikir, badan shabar atas cobaan dan istri yang tidak mencari-cari kekurangan dalam dirinya dan harta bendanya “ ( H.R. Thabrani ).
     Wanita generasi salaf justru sering mendorong suaminya untuk berjihad, berinfaq, menegakkan Negara Islam, membangun peradaban, meninggikan kalimah Allah dimuka bumi, menentang para thaghut yang memerangi umat Islam.
       Jangan sampai istri-istri kita menjadi bagian dari 3 hal yang membuat kebangkrutan dunia kahirat ( fawaqir ) , yaitu : Imam yang kalau kita berbuat baik kepadanya tidak pernah berterima kasih, tetapi kalau kita salah tidak mau memaafkan, tetangga yang selalu menyembunyikan kebaikan kita dan menyebarluaskan kejelekan kita, serta istri yang selalu menyakiti kita bila kita ada dan khianat bila kita pergi ( H.R. Thabroni ). Sebagaimana disebut dalam hadist lain,bahwa kesengsaraan seseorang diantaranya disebabkan oleh istri yang jahat, rumah yang jelek dan kendaraan yang jelek.
       Demikian pula hendaknya para istri berdo’a memohon kepada Allah agr dikaruniai suami yang sholeh, yang menyuruh untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat, seperti yang dilakukan oleh nabi Isma’il “ Ada pun Ismail, maka ia menyuruh ahlinya untuk menegakkan sholat, menunaikan zakat dan dia disisi Allah diridhoi “ (Maryam : 55 ). Menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran, membantu dalam ketaatn kepada Allah, memimpin keluarganya, menjaga mereka dari siksa api neeraka. Karena diantar sebab kesengsaraan seorang wanita adalah manakala mempunyai suami yang tidak kenal Allah, tidak sholat, berakhlak tercela, melanggal batasan-batasan Allah.
     Selanjutnya memohon agar dikaruniai keturunan yang sholihin ( menjadi permata hati), nak menjadi permata hati bukan sekedar tumbuuh besar, sehat, cakep, sukses belajarnya, dapat pekerjaannya ( mentas ). Tetapi yang bisa terjaga dari api neraka, lurus aqidahnya, rajin ibadahnya, luhur akhlaqnya, berbakti kepada Allah, kepda orang tua, bisa menjalankan fungsinya dalam memakmurkan bumi, berpengetahuan luas dsb.
     Apa artinya punya anak sukses dalam urusan duniawi, tetapi tidak beribadah kepda Allah, durhaka kepada orang tua, lebih setia kepada teman dan istrinya dan orang tua diterlantarkannya.
       Dan permohonan berikutnya yang menjadi kunci agar bisa mempunyai keluarga yang menjadi permata hati adalah manakal kita sebagai kepala rumah tangga bisa menjadi imam bagi orang-orang yang bertaqwa, artinya menjadi teladan dalam ketaqwaan kepada Allah. Imam ada dua macam ada yang menyeru kepada surga (menyuruh sholat, zakat dan kebaikan ) senjatanya adalah shabar dalam menhadapi syahawat dan yakin dalam menghadapi syubhat. (al-Anbiya’ : 73, Assajdah : 24 ) Dan ada pula yang menyeru ke neraka, sebagai propagandis menuju pintu-pintu jahannam dengan segala macam caranya. ( al-Qoshash : 41 )
Karena itu marilah kita membangun cita-cita yang luhur, abadikan dan bangun cita-cita kita dalam do’a khususnya harapan untuk memiliki generasi yang sholihin. Amien.(Ahmad Soeharto)
Read More..

Allah lebih Dekat dari urat nadi manusia

Allah tidak bisa dilihat oleh mata,
tidak bisa diuraikan dengan kata kata,
tidak bisa dibantah oleh pikiran,
tidak bisa disentuh oleh tangan,
tidak bisa dibayangkan oleh angan angan,

Allah Maha Dekat, lebih dekat dari urat nadi lehermu.
Allah Maha Mengetahui, lebih tahu dari gerak hatimu.
Allah Maha Pencipta, lebih canggih dari kreativitasmu.
Allah Maha Mendengar, lebih peka dari bisikan bathinmu.

Jika anda ingin mencari Allah, carilanh dahulu dalam relung hatimu.
Jika anda ingin dekat dengan Allah, benahi dahulu cara hidupmu.
Jika anda ingin dicintai Allah, cintai dahulu sesama hidupmu,
Jika anda ingin diterima Allah, bersihkan dahulu hawa nafsumu.

Biasa orang mencari Allah ditempat yang jauh.
Ia mengira Allah itu di ufuk langit.
Sebenarnya dalam hatimu Allah berlabuh.
Membuahkan iman dan taqwa kepada Al-Wajid.

Cari Allah dihatimu.
Jika anda beriman, niscaya Allah bersemayam dalam kalbu.
Tetapi jika anda kafir atheis,
jika hati anda kosong dari Al-Ba`ist,
niscaya pencarianmu akan hampa,
meskipun kau cari diujung dunia.

Allah Ta'ala Berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya." (Surat Qaaf : 16)
Read More..

Menjaga Pemikiran di Bulan Ramadhan

 Oleh: Dr. Adian Husaini
Suatu ketika, di akhir bulan Sya’ban, Rasulullah saw berpidato di hadapan para sahabat : ’Wahai manusia, sungguh kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung dan penuh berkah; yakni bulan yang di sana ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah jadikan puasanya suatu kewajiban dan ibadah di malam harinya suatu tathawwu’. Barangsiapa yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu amalan (sunnah) di bulan itu, maka samalah dia dengan orang yang mengerjakan amalan fardhu di bulan lain. Dan barangsiapa mengerjakan amalan fardhu di bulan Ramadhan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya. (HR. Ibn Khuzaimah dari Salman r.a.).Sebagai muslim kita yakin, bahwa bulan Ramadhan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Kita bukan penganjut empirisisme atau rasionalisme yang hanya mempercayai hal-hal yang terindera. Secara inderawi, bulan Ramadhan memang tidak berbeda dengan bulan-bulan lain. Di pagi hari, matahari terbit dari Timur, panas di siang hari, dan sore harinya matahari terbenam di Barat. Yang menjadikan Ramadhan berbeda dengan bulan lain adalah iman. Orang muslim yang beriman kepada wahyu yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw pasti akan menyikapi bulan Ramadhan dengan cara yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya.
       Karena itulah, sebagai Muslim, kita pun meyakini ada keistimewaan yang luar biasa di bulan Ramadhan; bulan yang penuh berkah, penuh ampunan Allah. Di bulan ini, amalan sunnah di catat oleh Allah laksana amal fardhu; dan amal fardhu dicatat pahalanya 70 kali lipat amal yang sama di luar bulan Ramadhan. Karena kita yakin dengan adanya hisab (perhitungan amal) di Hari Akhir, tentu kita tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang diberikan Allah untuk meraih pahala yang besar di bulan ini.
      Karena begitu besarnya ’bonus’ pahala yang dijanjikan, sebagai Muslim kita juga diajarkan agar senantiasa berhati-hati dalam menjaga amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Sebab, disamping janji pahala yang besar, kita juga ingat, ada berbagai jenis virus atau parasit amal -- seperti sikap hasad (dengki), riya’ – yang dapat merusak pahala amal. Amal ibadah perlu dijaga benar-benar niat dan keikhlasannya. Kita puasa karena mengharapkan keridhaan Allah. Begitu juga dengan berbagai amal ibadah lainnya.
       Imam al-Ghazali menceritakan dalam Ihya’ Ulumuddin, satu hadits riwayat Imam Muslim, bahwa ada tiga orang yang telah berbuat amal yang besar tetapi amalnya sia-sia karena dilakukan untuk mencari pujian manusia. Seorang yang gugur di jalan Allah yang amalnya sia-sia karena dia melakukan tindakan itu karena mengharapkan pujian manusia, agar dia dikatakan sebagai orang pemberani. Seorang lagi banyak bersedekah tetapi sedekahnya itu diniatkan agar dia dipuji sebagai orang pemurah. Dan yang terakhir seorang yang banyak membaca Kitab Allah, tetapi niatnya bukan mencari keridhaan Allah melainkan hanya mencari pujian manusia, agar dia dikatakan sebagai orang yang ahli dalam membaca Kitab Allah.
        Rasulullah saw juga bersabda: ”Aku sangat khawatir akan kemusyrikan yang menimpa umatku; mereka tidak menyembah berhala, tidak menyembah matahari, bulan atau batu, tetapi mereka riya’ terhadap amal ibadah mereka.” (HR Ibn Majah dan Al-Hakim, dala Ihya’ Ulumuddin). Itulah sebagian contoh parasit amal yang sangat ganas, yakni riya’. Tapi, ada jenis parasit amal lainnya yang lebih ganas dari itu semua, yaitu riddah (kemurtadan). Riddah adalah tindakan yang dapat mengeluarkan seseorang dari ad-Dinul Islam. Riddah bukan hanya merusak pahala amal, tetapi menghancurkan seluruh bangunan keimanan. Syekh Nawawi al-Bantani menguraikan masalah riddah ini secara panjang lebar dalam syarahnya atas Kitab Sullamut Taufiq. Dijelaskan, bahwa riddah adalah tindakan yang dapat merusak atau membatalkan keislaman seseorang.
         Karena itulah, kita perlu berhati-hati agar jangan sampai terkena penyakit ganas yang bernama riddah ini. Caranya tentu saja dengan membersihkan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang bisa merusak keimanan, seperti paham-paham yang meragukan kebenaran Islam, yang meragukan kenabian Muhammad saw, yang meragukan al-Quran, paham yang mendukung kemuyrikan, mendukung kebebasan untuk bermaksiyat, dan sebagainya.
       Kita tidak perlu mengikuti paham yang menyama-nyamakan semua agama. Kita tidak perlu ikut-ikutan paham yang menghujat kesucian al-Quran. Kita tidak perlu silau dengan pemikiran yang menyatakan bahwa semua orang yang berserah diri kepada Tuhan – siapa pun Tuhannya dan dengan cara apa pun ibadahnya – adalah muslim, karena ia telah mengikuti ”islam” dalam makna generiknya, yaitu ”berserah diri”. Kita tidak perlu ikuti paham yang melecehkan dan menganggap remeh syariah Islam. Kita tidak perlu ikut-ikutan orang yang menghalalkan pornografi dan pornoaksi dengan alasan kebebasan berekspresi. Memang aneh! Di bulan Ramadhan kali ini, masih saja ada yang tidak takut untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang jelas-jelas salah.
        Dalam salah satu acara pelatihan mahasiswa Islam, di satu kota di Jawa Barat, pada awal Ramadhan lalu, ada seorang instruktur yang menyebarkan pemahaman yang keliru tentang Islam. Dia menyebutkan bahwa Islam harus diartikan dalam makna generiknya, sebagai agama berserah diri kepada Tuhan. Pemahaman semacam ini bukan hal baru, tetapi meskipun terbukti lemah hujjahnya, tetap saja dikembangkan ke tangah masyarakat. Dalam sebuah buku berjudul Islam Mazhab HMI (2007), dijelaskan juga tentang makna Islam secara generik: “Dengan demikian bisa dikatakan setiap agama yang mengajarkan sikap pasrah dan tunduk kepada Allah harus disebut dengan islam (dalam makna generiknya) walaupun ajaran lokalnya berbeda-beda, dan tentu saja akan mendapat perkenan Tuhan.
       Tidak hanya agama semitik (Abrahamic religions) yang mendapat perkenan Tuhan, agama-agama lainnya juga, seperti Hindu-Budha, Konghucu dan sebagainya akan mendapat perkenan Tuhan (rida) selama agama tersebut mengajarkan sikap tunduk dan pasrah kepada Tuhan (islam). (hal. 10). “Sampai di sini, sejatinya pengertian islam harus dipahami dalam makna generiknya, yaitu sikap pasrah dan tunduk kepada tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, tidaklah terlalu tepat jika islam dibatasi hanya untuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.” (hal. 11).
       Buku yang ditulis oleh dosen Fakultas Syariah IAIN Medan ini sayangnya dikatakan sebagai ‘Islam mazhab HMI’. Pendapat ini memang disandarkan pada pemikiran tokoh HMI, Nurcholish Madjid, yang entah kenapa masih saja dikeramatkan oleh sebagian kalangan. Padahal, tidaklah memerlukan akal yang terlalu cerdas untuk mempertanyakan kesahihan pendapat semacam itu. Jika semua agama diridhai oleh Allah, untuk apa Nabi Muhammad saw mengajak umat manusia untuk memeluk Islam dan mengakuinya sebagai utusan Allah? Apa kriteria sikap pasrah kepada Tuhan? Bagaimana cara pasrahnya? Apakah menusia bisa seenaknya sendiri mereka-reka cara pasrah kepada Tuhan? Lalu, pertanyaan berikutnya, siapa Tuhan yang dituju dalam kepasrahan itu? Yahwehkah? Allah? Yesus? Iblis? Genderuwo? Tuhan yang mana? Apakah Allah memperbolehkan manusia memanggil nama-Nya seenaknya sendiri? Bolehkah manusia memanggil Allah, misalnya, dengan panggilan “Bos”?
Maka, dari kacamata Islam, jelas manusia tidak boleh memanggil nama Tuhan sembarangan. Sebab, nama Tuhan dalam Islam sudah ditentukan dalam wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Begitu juga cara menyembah Allah pun tidak boleh sembarangan. Kita, umat Islam, sangat disiplin dalam masalah tata cara ibadah kepada Allah, karena ada contoh dari utusan Allah, yaitu Muhammad saw. Jika kita mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, maka tidak bisa tidak, untuk mengenal-Nya dan untuk memahami cara menyembah-Nya yang benar, pastilah harus berdasarkan petunjuk dari Allah sendiri. Dan petunjuk itu sudah diberikan melalui utusan-Nya yang terakhir.
       Sebagai muslim, kita yakin, bahwa cara shalat para nabi sebelumnya juga sama dengan shalat kita. Saat peristiwa Isra’ mi’raj, Rasulullah saw berkesempatan menjadi imam shalat bagi semua nabi. Sekte Kristen Ortodoks Syiria, misalnya, hingga kini masih mengamalkan tata cara sembahyang yang sejumlah gerakannya mirip dengan shalat kaum Muslim. Bagi kaum Muslim, tata cara shalat yang benar tentu saja yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, karena kita yakin, Nabi Muhammad saw tidak melakukan sesuatu kecuali atas dasar wahyu dari Allah SWT.
      Dalam perspektif Islam, kaum Kristen, misalnya, tidak mungkin memahami lagi bagaimana tata cara ibadah yang berdasarkan wahyu, karena manusia yang harusnya dijadikan contoh dalam ibadah – yakni Nabi Isa a.s. – sudah mereka sembah dan diangkat sebagai Tuhan.
       Begitu juga halnya dengan kaum Yahudi. Mereka sudah kehilangan jejak shalatnya Nabi Musa a.s., karena ajaran Nabi Musa sudah mereka ubah-ubah sendiri. Begitu pula umat manusia lainnya. Karena itu, tanpa mengakui Muhammad saw sebagai utusan Allah, tidaklah mungkin mereka dapat mengenal Allah dan memahami cara beribadah yang benar kepada Allah. Karena itu kita bisa memahami, mengapa Nabi Muhammad saw senantiasa mengajak seluruh umat manusia untuk mengakuinya sebagai Utusan Allah yang terakhir. Ini adalah perspektif Islam. Dan jika seseorang sudah bersyahadat, mengakui bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”, seyogyanya dia juga berpikir sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
      Bukankah hal yang aneh, jika seorang mengakui Muhammad sebagai Nabi tetapi jika tidak mau menjadikannya sebagai suri tauladan (uswah hasanah)? Dalam perspektif Yahudi dan Kristen, Muhammad saw adalah seorang penipu, yang mengarang al-Quran dengan menjiplak Bibel Yahudi dan Kristen. Adanya sejumlah kemiripan cerita dalam al-Quran dan Bibel mereka jadikan bukti bahwa al-Quran adalah jiplakan dari Bibel. Itulah, yang antara lain, ditulis oleh Abraham Geiger dalam bukunya Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenomen? (Apa yang Muhammad pinjam dari Yahudi), terbit tahun 1833. Itulah posisi teologis Yahudi dan Kristen yang memang secara tegas menolak kenabian Muhammad saw.
        Islam mengkritik pandangan semacam itu, tetapi kaum Muslim diminta tidak memaksakan posisi teologis Islam pada mereka. Posisi semacam itu jelas, dan tidak “abu-abu”. Yang aneh adalah jika orang mengaku Muslim, tetapi dia enggan berdiri pada posisi Islam dalam pemikirannya, dan lebih memilih posisi “netral agama” dalam pemikiran. Memang, kini banyak kaum Muslim mendapatkan teror pemikiran, bahwa mereka dikatakan sebagai sumber konflik agama-agama jika memiliki keyakinan terhadap kebenaran agamanya sendiri.
         Mereka dipaksa untuk melepaskan klaim kebenaran (truth claim) terhadap agamanya sendiri. Akhirnya, dia menjadi pendukung paham kebenaran semua agama, yang secara halus, misalnya, dikemas dalam paham Kesatuan Transendensi Agama-agama (Transendent Unity of Religions). Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Perbedaan agama-agama itu hanya terletak pada level eksoteriknya dan bukan pada level esoteriknya. Penulis buku Islam Mazhab HMI pun juga taklid begitu saja terhadap paham hasil fantasi Rene Guenon dan Fritjop Schuon ini. Ia menulis:
“Secara substansial jelas bahwa ketiga ajaran agama besar (semitik) bisa dicarikan titik temunya yang terlihat pada ajaran esoteriknya, kendati secara eksoteris perbedaan itu cukup jelas dan sangat terasa.” (hal. 43).
        Ide adanya pertemuan esoteris (batin) antar agama-agama adalah murni sebuah fantasi. Menafikan begitu saja substansi dan signifikansi dari aspek eksoterik (aspek luar/syariah) adalah suatu kecerobohan. Sebab, cara ibadah adalah hal yang pokok dalam agama. Justru di antara ajaran pokok dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah tentang aspek eksoterik, aspek tata cara ibadah kepada Allah. Menganggap remeh soal ini adalah suatu kekeliruan besar. Dalam pandangan Islam, tentu saja, tidaklah setiap bentuk ibadah dapat diterima Allah.
        Jika ada orang yang menyembah Allah dengan bertelanjang bulat di tengah malam sambil berteriak-teriak minta ampun di kamar mandi, maka tidak bisa dikatakan bahwa ia akan bertemu pada level esoterik dengan orang Islam yang shalat tahajut di malam yang sama.
         Karena itulah, dalam pandangan Islam, tata cara ibadah termasuk hal pokok dalam agama. Islam tidak akan mentolerir orang yang rukuk dalam shalat dengan membungkukkan badannya ke belakang. Dalam tahiyyat, jari yang diacungkan haruslah jari telunjuk, bukan jari kelingking. Ini soal prinsip dalam Islam. Semua tata cara ibadah yang benar itu tidak mungkin diketahui jika seseorang menolak kenabian Muhammad saw.
Oleh sebab itu, mengikrarkan dua kalimah syahadat termasuk dalam rukun Islam. Itu ditegaskan dalam sebuah hadits Nabi saw: “Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah -- jika engkau berkemampuan melaksanakannya.” (HR Muslim).
        Itulah makna Islam, sebagaimana dijelaskan oleh utusan Allah SWT sendiri. Tidak perlu ngarang-ngarang soal esoterik atau eksoterik, yang akhirnya malah keblinger sendiri. Adalah sangat mengherankan, di Indonesia ini, kalangan yang sering mengaku sebagai cendekiawan yang kritis, seringkali tidak berani mengkritisi teori Islam-nya Nurcholish Madjid, dan membaca banyak pendapat ulama atau cendekiawan besar yang jauh lebih layak dan masuk akal untuk diterima pemikirannya. Sebagai orang yang pernah menjadi anggota HMI, saya sama sekali tidak merasa bermazhab seperti yang ditulis dalam buku Islam Mazhab HMI ini.
       Adalah menarik, misalnya, membaca teori Islam yang digariskan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang menyatakan: “There is only one genuine revealed religion, and its name is given as Islam, and the people who follow this religion are praised by God as the best among mankind… Islam, then, is not merely a verbal noun signifying ‘submission’; it is also the name of particular religion descriptive of true submission, as well as the definition of religion: submission to God.”
         Secara khusus, pada tahun 1998, teori ini telah ditulis sebagai disertasi doktor di ISTAC Kuala Lumpur oleh Dr. Fatimah bt. Abdullah dengan judul “An Analysis of The Concept of Islam as “True Submission” on the Basis of al-Attas’ Approach. Islam, menurut al-Attas bukan sekedar “agama berserah diri”, tetapi juga penjelasan tentang bagaimana cara berserah diri yang benar (true submission). Islam juga menjelaskan, siapa Tuhan yang sebenarnya. Semua itu hanya mungkin dipahami melalui penerimaan terhadap konsep kenabian Muhammad saw.
        Tanpa pengakuan kepada kenabian Muhammad saw, tidak ada Islam. Karena itulah, dalam CAP ke-223 lalu, kita membahas terjadinya satu tragedi keilmuan yang besar ketika UIN Jakarta meluluskan sebuah disertasi doktor ilmu Tafsir al-Quran yang menafsirkan QS 2:62 secara sembarangan dengan menyatakan: ”Jika diperhatikan dengan seksama, maka jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti bunyi harafiah ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dalam keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal shaleh – sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah.
          Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’ah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan al-Quran.”
      Meskipun dilegitimasi sebagai sebuah disertasi doktor ilmu Tafsir al-Quran di UIN Jakarta, tetapi kesimpulan semacam itu tetaplah bathil, karena menafikan berbagai ayat dan hadits Rasulullah saw. Padahal, Rasulullah saw bersabda: ”Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seorangpun dari ummat sekarang ini, baik Yahudi, maupun Nasrani, kemudian mereka tidak mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.” (HR Muslim).
        Jika ada yang menyatakan bahwa soal keimanan kepada Nabi Muhammad saw adalah soal kecil dan tidak perlu dibesar-besarkan, maka kita katakan pada mereka, kalau memang itu soal kecil, mengapa mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad saw? Apa beratnya mengakui Muhammad saw sebagai utusan Allah? Jadi, karena soal pemikiran bukanlah soal sepele, maka kita perlu menjaga pemikiran kita, agar tidak tercemar virus-virus yang akhirnya dapat merusak keislaman kita sendiri. Kita tidak perlu risau dengan orang-orang yang berlomba-lomba menuju kekufuran (QS 5:41).
       Tugas kita hanya menjaga diri kita sendiri dan mengingatkan orang-orang yang masih mau berpikir dan bersedia mendengarkan nasehat. Wallahu A’lam.
Read More..

Surat Dari GAZA

“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?
Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.
 
Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia, Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.

Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.
 
Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!
Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.
 
Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.

Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!
 
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.
 
Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di Indonesia, Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.
 
Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut. Wahai saudaraku di Indonesia, Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.
 
Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.
 
Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana. Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.

Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.
 
Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.

Abdullah Al Ghaza
Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=92822
Read More..

Kumpulan Kata Motivasi Sang Khalifah

      Hidup itu rangkaian sirkum perputaran yang selalu berputar mengelilingi diri. Terkadang seseorang bisa saja menjadi terbawah ketika roda bumi berputar ke bawah. Sebagian yang lain bisa saja sedang menanjak terus naik tanpa terlihat puncak.Sebagian lagi mungkin saja tetap di tengah dan tidak bergerak sendiri. Di situasi apapun kita berada, kita mungkin akan dihadapkan tentang sebuah tentang pertanyaan tentang bagaimana menghargai hidup?
       Dibawah ini hanya setetes kata-kata motivasi yang Sang Khalifah kutip dari seluruh tokoh didunia, semoga bermanfaat.
1. Hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan (Robert F. Kennedy)
2. Setiap pria dan wanita sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka (Brian Tracy)
3. Percayalah pada keajaiban, tapi jangan tergantung padanya (H. Jackson Brown, Jr)
4. Rayulah aku, dan aku mungkin tak mempercayaimu. Kritiklah aku, dan mungkin aku tak menyukaimu. Acuhkan aku, dan aku mungkin tak memaafkanmu. Semangatilah aku, dan aku mungkin takkan melupakanmu (William Arthur)
5. Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini, Anda juga membuat dia berbahagia dua puluh tahun lagi, saat ia mengenang peristiwa itu (Sydney Smith)
6. Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya. (Ali bin Abi Thalib)
7. Jangan segan untuk mengulurkan tangan Anda. Tetapi, jangan juga segan untuk menjabat tangan orang lain yang datang pada Anda (Pope John XXIII)
8. Alam memberi kita satu lidah, akan tetapi memberi kita dua telinga, agar kita mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara (La Rouchefoucauld)
9. Sahabat paling baik dari kebenaran adalah waktu, musuhnya yang paling besar adalah prasangka, dan pengiringnya yang paling setia adalah kerendahan hati (Caleb CC.)
10. Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat Anda berikan, bukan pada apa yang Anda peroleh (Mohandas Ghandi)
11. Kegagalan tidak diukur dari apa yang telah Anda raih, namun kegagalan yang telah Anda hadapi, dan keberanian yang membuat Anda tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi (Orison Swett Marden)
12. Dan bahwa setiap pengalaman mestilah dimasukkan ke dalam kehidupan, guna memperkaya kehidupan itu sendiri. Karena tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan (Annemarie S.)
13. Urusan kita dalam kehidupan bukanlah untuk melampaui orang lain, tetapi untuk melampaui diri sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini (Stuart B. Johnson)
14. Saya telah mempelajari kehidupan pria-pria besar dan wanita-wanita terkenal, dan saya menemukan bahwa mereka yang mencapai puncak keberhasilan adalah mereka yang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ada di hadapan mereka dengan segenap tenaga, semangat dan kerja keras (Harry S. Truman)
15. Sebagian orang mengatakan kesempatan hanya datang satu kali, itu tidak benar. Kesempatan itu selalu datang, tetapi Anda harus siap menanggapinya (Louis L’amour)
16. Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir (W.A. Nance)
17. Kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan adalah kepastian bahwa Anda dicintai apa adanya, atau lebih tepatnya dicintai walaupun Anda seperti diri Anda adanya (Victor Hugo)
18. Jika kita memulainya dengan kepastian, kita akan berakhir dalam keraguan, tetapi jika kita memulainya dengan keraguan, dan bersabar menghadapinya, kita akan berakhir dalam kepastian (Francis Bacon)
19. Jangan melihat masa lalu dengan penyesalan, jangan pula melihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran (James Thurber)
20. Orang-orang menjadi begitu luar biasa ketika mereka mulai berpikir bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Saat mereka percaya pada diri mereka sendiri, mereka memiliki rahasia kesuksesan yang pertama (Norman Vincent Peale)
21. Kebahagiaan akan tumbuh berkembang manakala Anda membantu orang lain. Namun bilamana Anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman, harus disirami tiap hari dengan sikap dan tindakan memberi (J. Donald Walters)
22. Sedikit sekali orang yang memiliki hartanya sendiri. Hartalah yang memiliki mereka (Robert G. Ingersoll)
23. Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah (Bhagawan Sri Sthya Sai Baba)
24. Orang yang bahagia bukanlah pada lingkungan tertentu, melainkan orang dengan sikap-sikap tertentu (Hugh Downs)
25. Jangan takut untuk mengambil satu langkah besar bila memang itu diperlukan. Anda tak akan bisa melompati jurang dengan dua lompatan kecil (David Lloyd George)
26. Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan (General Collin Power)
27. Kita menilai diri kita dengan mengukur dari apa yang kita rasa mampu untuk kerjakan, orang lain mengukur kita dengan mengukur dari adap yang telah kita lakukan (Henry Wadsworth Longfellow)
28. Pengalaman bukan apa yang terjadi pada Anda, melainkan apa yang Anda lakukan atas apa yang terjadi pada Anda (Aldous Huxley)
29. Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak, dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi (Jawaharlal Nehru)
30. Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan (Confusius)
31. Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik-baiknya dan berbahagia hari ini (Samuel Taylor Colleridge)
32. Amatlah sedikit yang diperlukan untuk membuat suatu kehidupan yang membahagiakan, semuanya ada di dalam diri Anda, yaitu di dalam cara berpikir dan bersikap (Fred Corbett)
33. Kesalahan terbesar yang dibuat manusia dalam kehidupannya adalah terus-menerus merasa takut bahwa mereka akan melakukan kesalahan (Elbert Hubbad)
34. Kebanggan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh (Confusius)

35. Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi tantangan, dan saya percaya pada diri saya sendiri (Muhammad Ali)
36. Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan, saat mereka menyerah (Thomas Alfa Edison)
37. Semua orang tidak perlu malu karena berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya (Alexander Pope)
38. Kita berdoa jika kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan rezeki melimpah (Khalil Gibran)
39. Bagian terbaik dari seseorang adalah perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain (William Wordsworth)
40. Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, hidup di tepi jalan dan dilempari dengan batu, tapi membalas dengan buah (Abu Bakar Sibli)
41. Apabila kamu tidak bisa berbuat kebaikan kepada orang lain dengan kekayaanmu, maka berilah mereka kebaikan dengan wajahmu yang berseri-seri, disertai akhlak yang baik (Nabi Muhammad Saw.)
42. Keramahtamahan dalam perkataan menciptakan keyakinan, keramahtamahan dalam pemikiran menciptakan kedamaian, keramahtamahan dalam memberi menciptakan kasih (Lao Tse)
43. Kaca, porselen, dan nama baik, adalah sesuatu yang gampang sekali pecah, dan tak akan dapat direkatkan kembali tanpa bekas yang nampak (Benjamin Franklin)
44. Kita melihat kebahagiaan itu seperti pelangi, tidak pernah berada di atas kepala kita sendiri, tetapi selalu berada di atas kepala orang lain (Thomas Hardy)
45. Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dipukul ombak. Ia tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menentramkan amarah dan gelombang itu (Marcus Aurelius)
46. Karena manusia cinta akan dirinya, tersembunyilah baginya aib dirinya. Tidak kelihatan olehnya walaupun nyata. Kecil di pandangnya walau bagaimana pun besarnya (Jalinus At Thabib)
47. Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah kesangsian. Tetapi, jika semua orang mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan (Sir Francis Bacon)
48. Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia, tetapi perbuatan pura-pura itulah sebenarnya yang menimbulkan permusukan dan pengkhianatan (Johan Wolfgang Goethe)
49. Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali nampak mustahil, kita baru yakin kalau kita telah melakukannya dengan baik (Evelyn Underhill)
50. Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh (Andrew Jackson)
51. Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita menyesali apa yang belum kita capai (Schopenhauer)
52. Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak (Aldus Huxley)
53. Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi (Ernest Newman)
54. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri (Martin Vanbee)
55. Dalam masalah hati nurani, pikiran pertama lah yang terbaik. Dalam masalah kebijaksanaan, pemikiran terakhirlah yang terbaik (Robert Hall)
56. Cara untuk menjadi di depan adalah memulai sekarang. Jika memulai sekarang, tahun depan Anda akan tahu banyak hal yang sekarang tidak diketahui, dan Anda tidak akan mengetahui masa depan jika Anda menunggu (William Feather)
57. Pahlawan bukanlah orang yang berani menetakkan pedangnya ke pundak lawan, tetapi pahlawan yang sebenarnya ialah orang yang sanggup menguasai dirinya ketika ia marah (Nabi Muhammad Saw.)
58. Ancaman nyata sebenarnya bukan pada saat komputer mulai bisa berfikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berfikir seperti komputer (Sydney Harris)
59. Orang-orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, dan akan mencoba kembali untuk melakukan dengan cara yang berbeda (Dale Carnegie)
60. Hati yang penuh syukur bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan induk dari segala kebajikan yang lain (Cicero)
61. Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu (Benjamin Franklin)
62. Apa yang nampak sebagai suatu kemurahan hati, sering sebenarnya tiada lain adalah ambisi yang terselubung, yang mengabaikan kepentingan-kepentingan kecil untuk mengejar kepentingan-kepentingan yang lebih besar (La Roucefoucauld)
63. Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan (Nabi Muhammad Saw.)
64. Kita semua hidup dalam ketegangan, dari waktu ke waktu, serta dari hari ke hari, dengan kata lain, kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri (Mary Mc Carthy)
65. Kerendahan hati menuntun pada kekuatan, bukan kelemahan. Mengakui kesalahan dan melakukan perubahan atas kesalahan adalah bentuk tertinggi dari penghormatan pada diri sendiri (John McCLoy)
66. Apapun tugas hidup kita, lakukanlah dengan baik. Seseorang semestinya melakukan pekerjaannya sedemikian baik sehingga mereka yang masih hidup, yang sudah mati dan yang belum lahir tidak mampu melakukannya lebih baik lagi (Marthin Luther King)
67. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri (Bung Karno)
68. Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua : mereka yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan tapi tak pernah memikirkannya (John Charles Salak)
69. Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi apa-apa (Denis Waitley)
70. Persahabatan adalah hal tersulit untuk dijelaskan di dunia ini. Dan, itu bukan soal yang Anda pelajari di sekolah. Tetapi, bila Anda tidak pernah belajar makna persahabatan, Anda benar-benar tidak belajar apa pun (Muhammad Ali)
71. Kebaikan hati adalah ketidakmampuan untuk tetap tenteram jika ada orang lain yang merasa gelisah, ketidakmampuan merasa nyaman jika ada orang merasa tidak nyaman, ketidakmampuan untuk tetap berperasaan enak apabila seorang tetangga sedang gundah (Samuel H. Holdenson)
72. Maafkanlah musuh-musuh Anda, tapi jangan pernah melupakan nama-namanya (John F. Kennedy)
73. Hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk orang lain bukanlah membagikan kekayaan Anda, tetapi membantu ia untuk memiliki kekayaannya sendiri (Benjamin Disraeli)
74. Ada dua macam manusia di dunia ini : mereka yang mencari alasan dan mereka yang mencari keberhasilan. Orang yang mencari alasan selalu mencari alasan mengapa pekerjaannya tidak selesai, dan orang yang mencari keberhasilan selalu mencari alasan mengapa pekerjaannya dapat terselesaikan (Alan Cohen)
75. Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau cintai (Imam Ali RA)
76. Sebuah tong yang penuh dengan pengetahuan belum tentu sama nilainya dengan setetes budi (Phytagoras)
77. Bila rahasia sebuah atom dari atom-atom tersingkap, rahasia segala benda ciptaan, baik lahir maupun batin akan tersingkap, dan kau takkan melihat pada dunia ini atau dunia yang akan datang kecuali Tuhan (Syaikh Ahmad Al-Alawi)
78. Lebih baik menjaga mulut Anda tetap tertutup dan membiarkan orang lain menganggap Anda bodoh, daripada membuka mulut Anda dan menegaskan semua anggapan mereka (Mark Twain)
79. Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki (Mahatma Ghandi)
80. Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan (Albert Einstein)
81. Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran (Corni Ten Boom)
82. Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tapi kita kehilangan semangat (Abraham Lincoln)
83. Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata “Ibu”, dan panggilan yang paling indah adalah “ibuku”. Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati. (Kahlil Gibran)
84. Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dialah ladang hatimu, yang dengan kasih kau taburi dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Kau menghampirinya di kala hati gersang kelaparan, dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa (Kahlil Gibran)
85. Seorang pecundang tak tahu apa yang dilakukannya bila kalah, tapi sesumbar apa yang dilakukannya bila menang. Sedangkan pemenang tak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang dilakukannya bila ia kalah (Eric Berne)
86. Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu? (Edward Hersey Richards)
87. Pandanglah hari ini, kemarin sudah jadi mimpi. Dan esok hanyalah sebuah visi. Tetapi, hari ini yang sungguh nyata, menjadikan kemarin sebagai mimpi kebahagiaan, dan setiap hari esok adalah visi harapan (Alexander Pope)
88. Jadikan deritaku sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuatan Yang Maha Esa (Bung Karno)
89. Ia akan datang, dan pergi. Seorang penguasa, pengemis atau pertapa – setiap orang yang lahir pasti mati. Menghembuskan nafas terakhir di atas tahta, atau diseret ke dalam kubur dengan tangan dan kaki terikat, apa bedanya? (Kabir)
90. Satu-satunya yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri (Franklin D. Rosevelt)
91. Saya melihat seorang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali tanpa kelihatan retak sedikit pun. Tapi, pada pukulan ke seratus satu kali, batu itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan terakhir itu yang membelah batu, tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya (Jacob Riis)
92. Jika Anda membiarkan sesuatu yang kecil berlalu, Anda akan menemukan kedamaian yang kecil juga. Jika Anda membiarkan lebih banyak hal berlalu, Anda akan meraih lebih banyak kedamaian. Jika Anda benar-benar membiarkan seluruhnya berlalu, Anda akan mendapatkan seluruh kedamaian (Ajahn Chah)
93. Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan. (J. Sidlow Baxter)
94. Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi (Abraham Maslow)
95. Meski Anda menyembunyikan pikiran buruk dalam hati Anda, tetap akan terpancar kekuatan kelam. Pikiran cinta, meskipun tak mengucapkannya, maka dunia pun akan terasa lebih terang (Ella Wheeler Wilcox)
96. Kadang-kadang anda dapat mengatasi sebuah situasi sulit hanya dengan bersedia memahami orang lain. Sering yang paling dibutuhkan oleh seseorang adalah mengetahui bahwa ada seorang lain yang peduli tentang bagaimana perasaannya dan berusaha memahami posisi mereka (Brian Tracy)
97. Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan kerjakan tiga hari kemudian (Abdullah Ibnu Mubarak)
98. Kesempatan Anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan Anda pada diri sendiri (Robert Collier)
99. Saya tak pernah menjumpai seseorang yang menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang menderita karena terlalu banyak ambisi tetapi tak cukup berusaha (Dr. James Mantague)
100. Nilai manusia, bukan bagaiman ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Bukan apa yang telah ia perolah, melainkan apa yang telah ia berikan. Bukan apa pangkatnya, melainkan apa yang telah diperbuat dengan tugas yang diberikan Tuha kepadanya (Ministry)
101. Perhatikan perbedaan antara apa yang terjadi bila seseorang berkata, “Saya telah gagal tiga kali”, dan apa yang terjadi bila ia berkata, “Saya orang yang gagal”. (S. I. Hayakawa)
102. Saat berbicara mode, berenanglah mengikuti arus. Saat berbicara prinsip, tegarlah seperti batu karang (Thomas Jefferson)
103. Ada dua cara untuk menjalani hidup ini dengan mudah, percaya pada segala sesuatu atau meragukan segala sesuatu. Kedua cara tersebut membebaskan kita dari berfikir (Theodore Rubin)
104. Hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat daripada selalu benar karena tidak melakukan apa-apa (George Bernard Shaw)
105. Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untuk memulai lagi dengan lebih cerdik (Henry Ford)
106. Apapun fakta yang ada di depan kita tidak lebih penting dari sikap kita dalam menghadapinya, karena itulah yang menentukan keberhasilan atau kegagalan kita (Norman Vincent Peale)
107. Anda adalah produk dari lingkungan Anda. Maka, pilihlah lingkungan terbaik bagi pengembangan Anda menuju tujuan-tujuan Anda. Analisalah hidup Anda melalui lingkaran Anda. Apakah hal-hal di sekitar Anda membatu Anda menuju sukses atau malah menahan Anda? (W. Clement Stone)
108. Kita harus saling memaafkan dan kemudian melupakan apa yang telah kita maafkan (Andrew Jackson)
109. Kebencian atau dendam tidak menyakiti orang yang tidak Anda sukai. Tetapi setiap hari dan setiap malam dalam kehidupan Anda, perasaan itu menggerogoti Anda (Norman Vincent Peale)
110. Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang. Mungkin saja perpisahan itu ternyata untuk selamanya (Jean Paul Reatcher)

 111. Maut bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan terbesar adalah apa yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup (Norman Cousins)
112. Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun. Yang lain dengan denyut jantung, gairah dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain (Confusius)
113. Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang kali. Dengan demikian, kecemerlangan bukan tindakan, tetapi kebiasaan (Aristoteles)
114. Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh dari pada yang dilihat orang lain, dan melihat sebelum orang lain melihat (Leroy Eims)
115. Jangan biarkan orang lain mempengaruhi ide dan keputusan Anda. Dalam lima tahun ke depan, Anda lah – bukan mereka – yang harus hidup dengan pilihan yang Anda buat (Sarah Brklacich)
116. Bukalah mata sewaktu berjalan, karena bisa saja Anda akan bertemu kesempatan. Adapun kesempatan itu sendiri buta. Peganglah erat-erat, karena kesempatan datang dan pergi tanpa memberitahu (Anonim)
117. Sifat cinta sama seperti sifat air dan tanah. Apabila Anda tidak cukup menggali, yang Anda peroleh adalah air yang keruh. Apabila Anda cukup menggali, yang Anda peroleh adalah air yang bersih dan jernih (Hazrat Inayat Khan)
118. Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan (Gen Collin Powel)
119. Kita datang ke dunia ini sendiri, dan sendiri pula kita meninggalkannya. Di antara pintu masuk dan pintu keluar, kita menghabiskan waktu lain untuk mencari persahabatan (E. M. Dooling)
120. Mereka yang tidak bisa memaafkan orang lain menghancurkan jembatan yang akan dilewatinya (Confusius)
121. Tuhan menganugerahi Anda wajah, tapi kita harus memberikannya ekspresi (Anonim)
122. Manusia tidak dirancang untuk gagal, tapi manusia-lah yang gagal untuk merancang (William J. Siegel)
123. Hati Anda belum hidup kalau belum pernah mengalami rasa sakit. Rasa sakit karena cinta akan membuka hati, bahkan bila hati itu sekeras batu (Hazrat Inayat Khan)
Read More..

Film "?" Apa maunya ?

Oleh: Dr. Adian Husaini
Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.” (Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar)
       PERLU digarisbawahi, saat menonton film “?” (Tanda Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam menganalisis film “?”. Sebagai Muslim, saya telah berikrar: "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."
        Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa. Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil konsensus, tapi dari al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat, saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama, Allah, yang jelas-jelas berasal dari wahyu.
       Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya – seperti Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. – inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid, yaitu mensatukan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia (QS 34:28), bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu.
       Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya berlaku untuk orang Islam, tetapi berlaku untuk semua manusia. Syariat Nabi Muhammad saw saat ini adalah satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara beribadah kepada Allah – satu-satunya – yang sah hanyalah dengan syariat Nabi Muhammad saw. Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang dibawa Nabi Muhammad saw.
        Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa Allah telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun, sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu manusia.
        Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama budaya (cultural religion).
Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan!
***
         Alkisah, Rika, seorang istri yang kecewa terhadap suami. Rika memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Ia berujar, bahwa kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik, Rika sangat toleran. Anaknya , – masih kecil, bernama Abi –dibiarkannya tetap Muslim. Bahkan, ia mengantarjemput anaknya ke masjid, belajar mengaji al-Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa makan sahur.
        Di Film “?” (Tanda Tanya), Rika ditampilkan sebagai sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain, secara verbatim Rika mengatakan, BAHWA agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Kata Rika mengutip ungkapan sebuah buku, “… semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”
       Mulanya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang Muslim pun awalnya menggugat. Tapi, di ujung film, Rika sudah diterima sebagai “orang murtad” dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya.
Kisah dan sosok Rika cukup mendominasi alur cerita dalam film “?” garapan Hanung Bramantyo ini. Rika tidak dipersoalkan kemurtadannya. Padahal, dalam pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar. Saat duduk di bangku SMP, saya sudah menamatkan satu Kitab berjudul Sullamut Tawfiq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari Imam Nawawi al-Bantani, sehingga beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya dipasangkan dengan Kitab Safinatun Najah.
     Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab ini, bahwa ada tiga jenis riddah, yaitu murtad dengan I’tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap kenabian Muhammad saw, atau ragu terhadap al-Quran, atau ragu terhadap Hari Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya.
       Masalah kemurtadan ini senantiasa mendapatkan perhatian serius dari setiap Muslim, sebab ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat al-Quran yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.
       ”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS 2:217).
       “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS 24:39).
Jadi, riddah/kemurtadan adalah masalah besar dalam pandangan Islam. Entahlah dimata kaum Pluralis! Tindakan murtad bukan untuk dipertontonkan dan dibangga-banggakan! Dalam perspektif Islam, patutkah seorang bangga dengan kekafirannya?
***
       Masih menyorot sosok Rika dalam film “?”. Rika pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Dalam konsepsi Islam, Rika bisa dikatakan telah melakukan dosa syirik, karena mengakui Yesus sebagai Tuhan atau salah satu Oknum dalam Trinitas. Padahal, dalam al-Quran Nabi Isa a.s. jelas-jelas menegaskan dirinya sebagai Rasul Allah. Nabi Isa adalah manusia, dan bukan Tuhan, atau anak Tuhan. Ini pandangan Islam. Tentu, ini bukan pandangan Kristen.
      Dalam perspektif Islam, menurunkan derajat al-Khaliq ke derajat makhluk adalah tindakan tidak beradab. Begitu juga sebaliknya, menaikkan derajat makhluk ke derajat al-Khaliq juga tidak beradab. Itu musyrik namanya. Seorang presiden saja tidak mau disamakan dengan rakyat biasa. Jika lewat, dia minta diistimewakan. Kita diminta minggir. Binatang juga dibeda-bedakan tempat atau kandangnya. Adab -- dalam konsepsi Islam -- mewajibkan seorang Muslim meletakkan segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang sebenarnya, sesuai ketentuan Allah. Nabi Isa a.s. adalah utusan Allah. Tugasnya menyampaikan kepada Bani Israel, siapa Tuhan yang sebenarnya, dan bagaimana cara menyembah-Nya. Nabi Isa a.s. melanjutkan syariat Nabi Musa a.s.
       Menuduh Allah mempunyai anak – menurut al-Quran – adalah sebuah kesalahan yang sangat serius. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS 19: 88-91).
       Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar dalam kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa, bahkan hubungan darah. Iman bukan “baju”, yang bisa ditukar dan dilepas kapan saja si empunya suka. Iman juga tidak patut diperjualbelikan: ditukar dengan godaan-godaan duniawi. Ada perbedaan prinsip antara mukmin dan kafir. “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.” (QS 98:6).
       Demi mempertahankan iman, Nabi Ibrahim a.s. rela berpisah dengan ayah dan kaumnya. Melihat tradisi penyembahan berhala pada keluarga dan kaumnya, Ibrahim a.s. tidak berpikir sebagai seorang Pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, dan punya tujuan yang sama. Tapi, Nabi Ibrahim berdiri kokoh pada prinsip Tauhid, mengajak kaumnya untuk meningalkan tradisi syirik.
       “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala ini sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74).
        “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikan negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 14:35-36)
“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).
       Dan kini, dalam setiap shalat, kaum Muslim membacakan doa untuk Nabi Muhammad saw dan sekaligus dirangkaikan dengan doa untuk Nabi Ibrahim a.s. Itu tentu karena kegigihan Nabi Ibrahim dalam menegakkan ajaran Tauhid dan bukan karena Nabi Ibrahim seorang musyrik!
       Maka, sebagai Muslim, saya tentu boleh merasa heran, dan penuh Tanda Tanya, mengapa dalam film “?” -- yang diproduksi dan digarap seorang yang beragama Islam -- soal ganti agama, soal keluar dari Islam, soal pergantian mukmin menjadi kafir, dianggap perkara kecil dan remeh?
***
        Syahdan, para pemikir ateis, seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, Jean Paul Sartre dan sejenisnya, terkenal dengan gagasan-gagasan yang memandang agama dan Tuhan sudah tidak diperlukan lagi di era zaman modern ini. Mereka beramai-ramai mempermainkan Tuhan. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menyatakan: “even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.” (Karem Armstrong, History of God, 1993). Thomas J. Altizer, dalam “The Gospel of Christian Atheism” (1966) menyatakan: “Only by accepting and even willing the death of God in our experience can we be liberated from slavery…” (Karen Armstrong, History of God)
       Friedrich Nietzsche, dalam karyanya, Also Sprach Zarathustra, mengungkap gagasan bahwa “Tuhan sudah mati”. Karena Tuhan sudah mati, dan tidak diperlukan lagi, Nietzsche berpendapat, “Kepercayaan adalah musuh yang lebih berbahaya bagi kebenaran, dibanding kebohongam.” Nietzsche ingin bebas dari segala aturan moral, ingin bebas dari Tuhan. Ujungnya, pada 25 Agustus 1900, ia mati setelah menderita kelainan jiwa dan penyakit kelamin. (Lihat, B.E. Matindas, Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern, 2010).
         Jika direnungkan secara serius, Pluralisme Agama sejatinya bisa begitu dekat dengan ateisme. Ketika orang menyatakan, “semua agama benar”, sejatinya bersemayam juga satu ide dalam dirinya, bahwa “semua agama salah”. Sebab, “Tuhan” (God), yang dipersepsikan kaum Pluralis adalah Tuhan yang abstrak. Tuhan kaum Pluralis adalah Tuhan dalam angan-angan, yang boleh diberi nama siapa saja, diberi sifat apa saja, dan cara menyembahnya pun boleh suka-suka. Kapan suka disembah, kapan-kapan tidak suka, bisa diganti dengan Tuhan lain. Cara menyembah Tuhan, menurut mereka, juga sesuka selera manusia. Bosan dengan cara satu, bisa diganti dengan cara lain. Sebab, dalam konsep mereka, tidak ada satu cara yang pasti benar dalam ibadah, sesuai petunjuk seorang Nabi.Tuhan dalam Islam mengharamkan babi. Pada saat yang sama, Tuhan dalam agama Kristen menghalalkan babi.
      Tuhan, dalam agama Bhairawa Tantra, memerintahkan agar menyembelih wanita dan darahnya kemudian diminum bersama-sama. Tuhan dalam agama Children of God menganjurkan seks bebas, sebagai wujud rasa kasih sayang antar-sesama manusia. Kini, di daratan Amerika dan Eropa bermunculan gereja-gereja nudis. Baik pendeta maupun jemaatnya, semuanya telanjang bulat saat melakukan kebaktian. Jika semua jenis “Tuhan” itu diangga sama saja, maka “Tuhan” yang mana yang disembah kaum Pluralis?
         Jadi, saat seorang yang mengaku Pluralis berkata, “Semua agama menyembah Tuhan yang sama”, maka secara hakiki, dia telah berdiri di luar Islam. Sebab, dia tidak lagi menuhankan Allah. “Tuhan”, baginya, bisa siapa saja, berupa apa saja, dan berwujud apa saja. Bisa disebut Yehweh, bisa Allah, bisa Yesus, bisa Brahmin, dan bisa juga Iblis! Yang penting dikatakan “Tuhan”, yang penting God! Padahal, seorang Muslim sudah mengikrarkan syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.
         Meskipun menyebut Tuhan mereka dengan “Allah”, tetapi kaum Quraisy ketika itu dikatakan sebagai “musyrik”, sebab mereka menyekutukan Allah dengan Tuhan-tuhan lain. Allah hanyalah salah satu dari Tuhan-tuhan mereka; bukan Tuhan satu-satunya. Sebutan bisa sama, yakni “Allah”, tetapi konsepnya berbeda-beda. Sebagian besar kaum Kristen di Indonesia menyebut juga Tuhan mereka dengan sebutan “Allah”, tetapi konsepnya berbeda dengan “Allah” dalam Islam.
         Lain lagi dengan aliran “Darmogandul” di Tanah Jawa, yang mengartikan Allah dengan “ala” (bahasa Jawa, artinya jelek). Dalam salah satu bait Pangkur-nya, Kitab Darmogandul, menyatakan: “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”
         Jadi, Tuhan yang mana yang disembah kaum Pluralis? Jika Tuhan apa pun sama saja, lalu apa artinya Tuhan bagi mereka? Ujung-ujungnya bisa jadi: Tuhan tidak penting! Sebab, dalam pandangan kaum ini, Tuhan yang sejati (Allah), atau manusia, atau setan dianggap sama saja. Semua bisa menjadi Tuhan dan dituhankan. Ujung-ujungnya, Tuhan dianggap tidak penting. Bandingkan dengan sosok Sigmund Freud, psikolog dan salah satu perintis ateisme modern, yang berteori bahwa “Bertuhan, hanyalah wujud gejala penyakit jiwa infantilisme (penyakit kekanak-kanakan). (B.E. Matindas, ibid).
       Ketidakjelasan posisi teologis kaum Pluralis Agama, digambarkan oleh Dr. Stevri Lumintang, seorang pendeta Kristen di Malang, dalam bukunya, Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004).
       Dicatat dalam ilustrasi sampul buku ini, bahwa Teologi Abu-Abu adalah posisi teologi kaum pluralis ; bahwa teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama.
        Ditegaskan dalam buku ini: ‘’Inti Teologi Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan terhadap intisari atau jatidiri semua agama yang ada. Karena, perjuangan mereka membangun Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai dari usaha untuk menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan teologi mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas(an) kebenaran yang ada di masing-masing agama.’’
***
          Sosok lain yang secara dominan ditampilkan dalam Film “?” adalah seorang bernama Surya. Ia seorang laki-laki Muslim, berprofesi sebagai aktor figuran. Dia berteman dengan Rika. Karena miskin, ia terusir dari rumah kosnya. Lihatlah, dalam film ini, Ibu Kos yang “bakhil” itu ditampilkan dalam sosok berjilbab, dan mengajari anak Rika agar membaca buku-buku Islam!
        Surya memuji-muji Rika telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Mereka berkawan akrab. Surya ditampilkan sebagai sosok yang polos, kocak dan naif. Untuk uang, dan mungkin untuk mempertontonkan fenomena “kerukunan umat beragama”, Surya menerima tawaran Rika agar berperan sebagai Yesus. Ia rela beradegan – seolah-olah -- dipaku di tiang salib di sebuah Gereja Katolik saat perayaan Paskah. Pada kali lain, ia berperan sebagai Santa Claus. Sebagian jemaat Gereja sempat memprotes sosok Yesus diperankan seorang Muslim. Terjadi perdebatan. Muncul Pastor yang menyetujui penunjukan Surya sebagai tokoh Yesus.
        Seperti halnya Rika, tampaknya sosok Surya ditampilkan sebagai representasi fenomena toleransi dan “kerukunan”. Setelah merelakan dirinya berperan sebagai Yesus, Surya kembali ke masjid membaca surat al-Ikhlas, sebuah surat dalam al-Quran yang menegaskan kemurnian Tauhid. “Katakan, Allah itu satu. Allah tempat meminta. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Allah itu satu! Allah tidak punya anak! Ini gambaran dalam Film “?” karya Hanung ini.
Padahal, surat al-Ikhlas seperti mengoreksi doktrin pokok dalam agama Kristen, yang dirumuskan sekitar 300 tahun sebelumnya, di Konsili Nicea (325 M), sebagaimana disebutkan dalam Nicene Creed:
      “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa…” (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).
       Padahal, al-Quran sudah menjelaskan: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS 61:6). Dalam al-Quran, ada cerita Lukmanul Hakim yang menesehati anaknya: “Syirik adalah kezaliman besar.” (QS 31:13).
         Beratus tahun, sejak kelahirannya, Islam membuktikan sebagai agama yang sangat toleran. Sejak awal, Islam mengakui dan menghargai perbedaan, tanpa harus kehilangan keyakinan.
         Saat Nabi Muhammad s.a.w. diutus, di wilayah Timur Tengah, sudah eksis pemeluk Yahudi, Kristen, dan kaum musyrik Arab. Nabi Muhammad s.a.w. mengajak mereka untuk memeluk Islam, mengakui Allah satu-satunya Tuhan dan dirinya adalah utusan Allah. Nabi tidak menyatakan, “Semua agama sama-sama jalan yang sah menuju Tuhan!” Bahkan, ada perintah al-Quran dalam surat al-Kafirun (109): “Katakan, hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah! Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah! Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah! Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah!”
      Dalam Tafsirnya, Al-Azhar, Prof. Hamka menjelaskan, asbabun nuzul surat al-Kafirun ini berkaitan dengan tawaran damai empat tokoh kafir Quraisy yang resah dengan dakwah Tauhid Nabi Muhammad saw. Mereka adalah al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka mengajukan usulan: “Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah….”
     Buya Hamka mencatat: “Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.”
      Lebih jauh Buya Hamka menjelaskan: “Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang haq hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil jualah yang menang.”
      Itulah paparan Buya Hamka, ulama terkenal dan salah satu Pahlawan Nasional di Indonesia. Kita bisa menyimpulkan, jika ada yang menyatakan, bahwa “semua agama adalah jalan kebenaran”, saat itu dikepalanya telah hilang konsep iman dan kufur, konsep tauhid dan syirik. Baginya, tiada penting lagi, apakah seorang bertauhid atau musyrik; tak perlu dipersoalkan makan babi atau ayam, minum khamr atau jus kurma; tidak penting lagi berjilbab atau telanjang; tiada beda antara nikah atau zina; yang penting – katanya – adalah mengasihi sesama manusia. Saat itu, sejatinya, agama-agama sudah tidak ada; sudah diganti dengan SATU    AGAMA: “agama global”, “agama universal”, “agama kemanusiaan”, atau “agama cinta”.
       Persaudaraan global antar-sesama tanpa memandang agama menjadi misi terpenting dari kelompok lintas-agama semacam Theosofi dan Freemason. Ketua Theosofische Vereeniging Hindia Belanda, D. Van Hinloopen Labberton pada majalah Teosofi bulan Desember 1912 menulis: "Kemajuan manusia itu dengan atau tidak dengan agama? Saya kira bila beragama tanpa alasan, dan bila beragama tidak dengan pengetahuan agama yang sejati, mustahil bisa maju batinnya. Tidak usah peduli agama apa yang dianutnya. Sebab yang disebut agama itu sifatnya: cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan budinya. Jadi yang disebut agama yang sejati itu bukannya perkara lahir, tetapi perkara dalam hati, batin.
Inikah yang dituju oleh Film “?” Jangan menuduh! Silakan dicermati dan direnungkan!

***
       Masih ada sosok lain yang diidolakan dalam film “?”. Namanya, Menuk. Dia seorang muslimah, berjilbab pula. Menuk bekerja di sebuah retoran China. Bermacam makanan dijual di sana, termasuk babi. Dengan mencolok kepala babi ditampilkan. Kata si empunya restoran, bahan babi dan bahan lain dipisahkan.
Menuk diterima bekerja dengan baik di restoran ini. Ia diberi kebebasan ibadah. Dalam salah satu segmen, ditayangkan Menuk sedang shalat, disampingnya Nyonya pemilik restoran juga sedang bersembahyang sesuai dengan agamanya.
       Pesan dari pemunculan sosok Menuk ini cukup jelas: inilah contoh toleransi! Muslimah berjilbab rela bekerja di sebuah restoran yang menjual babi.
       Syukurlah, di akhir cerita, anak pemilik restoran bersedia memeluk Islam. Ini tentu baik, dalam perspektif Islam. Tetapi, apakah perlu harus melalui proses bekerja di sebuah restoran yang menjual babi?
       Tujuan baik tidak boleh menghalalkan segala cara. Tujuan memberi nafkah keluarga adalah baik. Tetapi, cara yang ditempuh pun harus baik. Banyak muslimah yang gigih membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja keras dalam berbagai bidang profesi, dan juga toleran dengan yang lain. Tapi, apakah Menuk sosok Muslimah yang ideal untuk ditampilkan?
      Walhasil, Film “?” karya Hanung Bramantyo ini membawa pesan besar yang terlalu jelas: agama apa saja, sebenarnya sama saja! Agama-agama dipandang sebagai jalan setapak menuju Tuhan yang sama. Juga, agama-agama dianggap barang remeh; laksana baju, agama boleh ditukar dan -- kalau perlu -- dibuang kapan saja! Katanya, demi kerukunan, demi toleransi, dan demi perdamaian.
       Akhirul kalam, di era globalisasi dan kebebasan informasi, saat kemusyrikan dan kemurtadan ditampilkan dalam wujud yang menawan dan menghibur, ada baiknya kita merenungkan satu ayat al-Quran: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan setan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu." (QS 6:112)
      Juga, Nabi Muhammad saw pernah bersabda: “Bersegaralah mengerjakan amal shalih, (sebab) akan datang banyak fitnah laksana malam yang gelap gulita. Pada pagi hari, seseorang berada dalam keadaan mukmin, tetapi sore harinya menjadi kafir. (Atau) sore harinya dia mukmin, pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan harta-benda dunia.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bil-shawab
Read More..
Thank you 4 your visit

Info Sang Khalifah

Member Follow ME

Presented by

bisnis internet

free web site trafffic and promotion
Page Rank Check
Law Blogs

Ikut Gabung Yuk..!!
There will be no exception Eternal Eternity Itself - Sang Khalifah - Copyright 2010 - Muhammad Deden Suryadiningrat - I Could If I'm Doing I Can Surely